Perbedaan Pendidik dan Pengajar

Standar

Bismillahhirrahmanirrahim.

syukur alhamdulillah bisa corat-coret lagi di Jombang Pustaka setelah sekian lama sempat vakum. (gak punya laptop, ini aja pake laptop pinjaman 🙂 ).

nggeh pun, sakmonten mawon basa-basi e. dulur, niki wonten artikel menarik, monggo diwoco!

 

PENDIDIK VS PENGAJAR

Muncul berbagai pendapat tentang apa itu pengajar dan apa itu pendidik. Menurut asumsi saya peribadi, perbedaan antara pendidik dan pengajar, terletak pada pendidikan moral yang di berikan, pengajar hanya bertugas untuk mentransfer ilmunya kepada orang lain, namun tidak memiliki kewajiban untuk membentuk moral dari orang yang dia ajar. Sedangkan Pendidik tidak hanya mampu mentransfer ilmu, namun juga mampu membentuk moral dari orang yang dia ajar.

Cukupkah Hanya dengan Menjadi Seorang Pengajar untuk turut membangun bangsa ?

Seorang pendidik memiliki kemampuan untuk mentransfer ilmu layaknya pengajar, namun seorang pengajar tidak mampu untuk melakukan hal yang sama layaknya pendidik, yakni turut bertanggung jawab atas moral dari orang yang di didik, dan itu merupakan sebuah amanah yangcukup besar, karena apa yang akan di lakukan oleh orang yang telah terdidik, merupakah hasil binaan dari si pendidik.
Menjadi seorang pengajar adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia, karena dia turut mencerdaskan bangsa berkat kerjanya, Pengajar mampu menciptakan orang-orang yang cerdas , bukankah akan menjadi makmur negara ini jika semua pemimpin ataupun warga negaranya cerdas, berkat seorang pengajar ? Jawabannya BELUM TENTU !!!

mereka memang cerdas dalam berfikir, namun belum tentu mereka juga cerdas dalam bertindak serta memiliki moral yang baik. buktinya? kita lihat saja para pemimpin dan wakil rakyat, tidak mungkin mereka bisa duduk di kursi kebanggaan mereka jika mereka tidak cerdas, namun masih banyak wakil rakyat tersebut yang melakukan tindakan layaknya orang yang tak berpendidikan, ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa wakil rakyat pernah menonton video porno dalam sidang, dan bahkan pernah ada wakil rakyat yang video mesumnya tersebar ke masyarakat, namun yang paling mencolok adalah hobi beberapa wakil rakyat untuk mencuri uang negara, yang tentunya uang itu milik rakyat. Jika kita telusuri lagi dalam setiap kasus korupsi di butuhkan sebuah Taktik dan kecerdasan Tinggi oleh si pelaku untuk mencuri uang Negara , hingga tak seorangpun mampu mengetahuinya, namun apakah itu termasuk prilaku orang berpendidikan ? tentu TIDAK , itu karena mereka tidak memiliki dasar moral serta pendidikan yang baik. Mereka (Para Koruptor)Hanya memikirkan kesenangan mereka, tanpa memikirkan nasib jutaan rakyat yang mereka rugikan, dan dampak besar lain dari korupsi yang mereka lakukan. Karena itulah Indonesia tidak membutuhkan para pemimpin yang Terpelajar namun tak bermoral, yang Indonesia butuhkan adalah orang- orang yang terdidik, yang secara tak langsung mereka akan bertanggung jawab terhadap amanah yang mereka pegang.

 

 

Mencontek, Budaya awal bagi terlahirnya seorang calon koruptor, lalu di manakah si pendidik ?

Mencontek masih menjadi Budaya pelajar. Semua orang tau bahwa mencontek merupakan tindakan tidak jujur, dan tidak dapat di pungkiri bahwa prilaku mencontek ini pernah di lakukan hampir oleh semua orang, dengan satu alasan yang sama, yakni “TERDESAK”, saya sendiripun pernah melakukan hal yang sama, yakni mencontek saat ujian, memang nilai tinggi yang didapat, namun tidak ada kepuasan tersendiri dari nilai yang tercetak. akhirnya kini tertanam dalam diri saya bahwa tidak ada kepuasan tersendiri selain memperoleh nilai hasil kerja pribadi.

Budaya Mencontek ini Muncul karena adanya keinginan untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya tanpa adanya kesadaran tentang makna sebuah kejujuran. Itu karena Nilai cenderung digunakan sebagai Penunjuk Kecerdasan, Nilai muncul di raport dan dapat di lihat oleh semua orang, Jika Nilai Jelek orang Tua Marah, Jika Nilai Baik Orang Tua Bangga. Itulah Pemahaman yang selalu tertanam dalam diri kita.

Penanaman paham bahwa nilai itu segalanya, tidak di imbangi dengan penanaman moral bahwa sebuah kejujuran itu jauh lebih berharga, mengabikatkan mencotek menjadi sebuah budaya yang secara turun temurun terus di lakukan oleh pelajar yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Budaya Inilah yang secara tak langsung melahirkan koruptor-koruptor baru, karena sejak kecil mereka tidak di ajarkan pentingnya sebuah kejujuran. Hingga prilaku buruk tersebut mereka bawa hingga dewasa. Lalu dimana peran seorang Pendidik ?

Guru yang digambarkan sebagai seorang pendidik di lingkungan sekolah, masih banyak yang belum mengetahui tentang makna menjadi pendidik dalam arti sesungguhnya.Buktinya : Masih banyak kasus yang menunjukkan bahwa Guru membantu muridnya dalam mengerjakan ujian nasional. Baik melalui pesan singkat atau metode curang lainnya.Jika guru yang ada di sekitar mereka tidak mampu menjadi pendidik bagi mereka, lalu siapa ? Karena itulah di butuhkan pemahaman lebih dari seorang guru, bahwa tidak cukup jika dirinya hanya menjadi seorang pengajar, namun harusnya jadi seorang Pendidik, karena mereka memegang amanah penting untuk mendidik serta membentuk moral para calon pemimpin bangsa.

 

Menjadi Pendidik = Turut Membangun Bangsa

Usaha untuk membangun bangsa, tidak hanya di lakukan dengan memberantas para koruptor yang telah mencuri uang rakyat, namun harusnya juga memberantas kebiasaan tidak jujur yang berkembang di kalangan pelajar, karena para pelajar-pelajar muda itulah yang nantinya akan menggantikan para pemimpin dan para wakil yang rakyat yang kini menjabat. Jika kita membiarkan kebiasaan tidak jujur berkembang di sekitar mereka, maka secara tak langsung banyak prilaku negatif yang akan tertanam dalam diri mereka, sehingga melahirkan calon koruptor-koruptor baru, jika nantinya mereka menjadi pemimpin atau para wakil rakyat.

Di sinilah fungsi pendidik di butuhkan, karena dia tidak hanya berjasa dalam mencerdaskan bangsa namun juga berperan penting dalam menjaga keutuhan serta pembangunan bangsa. Dengan turut melahirkan para pelajar muda, yang nantinya mam
Cukupkah Hanya dengan Menjadi Seorang Pengajar untuk turut membangun bangsa ?

Seorang pendidik memiliki kemampuan untuk mentransfer ilmu layaknya pengajar, namun seorang pengajar tidak mampu untuk melakukan hal yang sama layaknya pendidik, yakni turut bertanggung jawab atas moral dari orang yang di didik, dan itu merupakan sebuah amanah yangcukup besar, karena apa yang akan di lakukan oleh orang yang telah terdidik, merupakah hasil binaan dari si pendidik. Menjadi seorang pengajar adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia, karena dia turut mencerdaskan bangsa berkat kerjanya, Pengajar mampu menciptakan orang-orang yang cerdas , bukankah akan menjadi makmur negara ini jika semua pemimpin ataupun warga negaranya cerdas, berkat seorang pengajar ?Jawabannya BELUM TENTU !!!

mereka memang cerdas dalam berfikir, namun belum tentu mereka juga cerdas dalam bertindak serta memiliki moral yang baik.

buktinya ? kita lihat saja para pemimpin dan wakil rakyat, tidak mungkin mereka bisa duduk di kursi kebanggaan mereka jika mereka tidak cerdas, namun masih banyak wakil rakyat tersebut yang melakukan tindakan layaknya orang yang tak berpendidikan, ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa wakil rakyat pernah menonton video porno dalam sidang, dan bahkan pernah ada wakil rakyat yang video mesumnya tersebar ke masyarakat, namun yang paling mencolok adalah hobi beberapa wakil rakyat untuk mencuri uang negara, yang tentunya uang itu milik rakyat. Jika kita telusuri lagi dalam setiap kasus korupsi di butuhkan sebuah Taktik dan kecerdasan Tinggi oleh si pelaku untuk mencuri uang Negara , hingga tak seorangpun mampu mengetahuinya, namun apakah itu termasuk prilaku orang berpendidikan ? tentu TIDAK , itu karena mereka tidak memiliki dasar moral serta pendidikan yang baik. Mereka (Para Koruptor)Hanya memikirkan kesenangan mereka, tanpa memikirkan nasib jutaan rakyat yang mereka rugikan, dan dampak besar lain dari korupsi yang mereka lakukan. Karena itulah Indonesia tidak membutuhkan para pemimpin yang Terpelajar namun tak bermoral, yang Indonesia butuhkan adalah orang- orang yang terdidik, yang secara tak langsung mereka akan bertanggung jawab terhadap amanah yang mereka pegang.

 

Mencontek, Budaya awal bagi terlahirnya seorang calon koruptor, lalu di manakah si pendidik ?

Mencontek masih menjadi Budaya pelajar. Semua orang tau bahwa mencontek merupakan tindakan tidak jujur, dan tidak dapat di pungkiri bahwa prilaku mencontek ini pernah di lakukan hampir oleh semua orang, dengan satu alasan yang sama, yakni “TERDESAK”, saya sendiripun pernah melakukan hal yang sama, yakni mencontek saat ujian, memang nilai tinggi yang didapat, namun tidak ada kepuasan tersendiri dari nilai yang tercetak. akhirnya kini tertanam dalam diri saya bahwa tidak ada kepuasan tersendiri selain memperoleh nilai hasil kerja pribadi.

Budaya Mencontek ini Muncul karena adanya keinginan untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya tanpa adanya kesadaran tentang makna sebuah kejujuran. Itu karena Nilai cenderung digunakan sebagai Penunjuk Kecerdasan, Nilai muncul di raport dan dapat di lihat oleh semua orang, Jika Nilai Jelek orang Tua Marah, Jika Nilai Baik Orang Tua Bangga. Itulah Pemahaman yang selalu tertanam dalam diri kita.

Penanaman paham bahwa nilai itu segalanya, tidak di imbangi dengan penanaman moral bahwa sebuah kejujuran itu jauh lebih berharga, mengabikatkan mencotek menjadi sebuah budaya yang secara turun temurun terus di lakukan oleh pelajar yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Budaya Inilah yang secara tak langsung melahirkan koruptor-koruptor baru, karena sejak kecil mereka tidak di ajarkan pentingnya sebuah kejujuran. Hingga prilaku buruk tersebut mereka bawa hingga dewasa.

Lalu dimana peran seorang Pendidik ?Guru yang digambarkan sebagai seorang pendidik di lingkungan sekolah, masih banyak yang belum mengetahui tentang makna menjadi pendidik dalam arti sesungguhnya. Buktinya : Masih banyak kasus yang menunjukkan bahwa Guru membantu muridnya dalam mengerjakan ujian nasional. Baik melalui pesan singkat atau metode curang lainnya. Jika guru yang ada di sekitar mereka tidak mampu menjadi pendidik bagi mereka,lalu siapa ? Karena itulah di butuhkan pemahaman lebih dari seorang guru, bahwa tidak cukup jika dirinya hanya menjadi seorang pengajar, namun harusnya jadi seorang Pendidik, karena mereka memegang amanah penting untuk mendidik serta membentuk moral para calon pemimpin bangsa.

 

Menjadi Pendidik = Turut Membangun Bangsa

Usaha untuk membangun bangsa, tidak hanya di lakukan dengan memberantas para koruptor yang telah mencuri uang rakyat, namun harusnya juga memberantas kebiasaan tidak jujur yang berkembang di kalangan pelajar, karena para pelajar-pelajar muda itulah yang nantinya akan menggantikan para pemimpin dan para wakil yang rakyat yang kini menjabat. Jika kita membiarkan kebiasaan tidak jujur berkembang di sekitar mereka, maka secara tak langsung banyak prilaku negatif yang akan tertanam dalam diri mereka, sehingga melahirkan calon koruptor-koruptor baru, jika nantinya mereka menjadi pemimpin atau para wakil rakyat. Percuma jika kita memberantas koruptor yang merusak bangsa saat ini, namun koruptor-koruptor baru terus bertambah, melalui metode pendidikan yang salah.

Di sinilah fungsi pendidik di butuhkan, karena dia tidak hanya berjasa dalam mencerdaskan bangsa namun juga berperan penting dalam menjaga keutuhan serta pembangunan bangsa. Dengan turut melahirkan para pelajar muda, yang nantinya mampu menjadi pemimpin yang jujur serta bermoral baik.pu menjadi pemimpin yang jujur serta bermoral baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s