METPEN BAHASA : PEMEROLEHAN BAHASA PADA PENDERITA TUNARUNGU DI SDLB

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Dinamika pendidikan anak tunarungu sudah mulai cukup lama di Indonesia. Pada tahun 1930 sudah ada sekolah tunarungu pertama di Indonesia yang dididrikan oleh seorang Belanda bernama C.M Roelfsema Wesselink. Sekolah tersebut terletak di Cicendo Jawa Barat, namun perkembangan sekolah tunarungu di Indonesia tidak sepesat yang diharapkan. Berdasarkan data dari Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2009 jumlah anak penyandang cacat yang ada di sekolah sebesar 85.645 dengan rincian SLB sebanyak 70.501 anak dan di sekolah inklusi sebanyak 15.144 anak. Anak penyandang cacat yang terdaftar di sekolah luar biasa sekitar 14,4% sisanya 85,6% masih berada di tengah keluarga dan masyarakat. Pertumbuhan jumlah penderita tunarungu yang meningkat tidak diimbangi dengan ketersediaan sekolah, guru baik dari sisi jumlah maupun kompetensi.

Penelitian yang dilakukan oleh PSIBK (Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus) Universitas Sanata Dharma pada tahun 2010 yang melibatkan 21 sekolah SLB di Indonesia, menunjukkan bahwa 515 guru yang berasal dari 21 SLB kompetensi mengajarnya masih sangat rendah, messkipun mereka memiliki latar belakang PLB (Pendidikan Luar Biasa). Hail Penlitian PSIBK juga menunjukkan bahwa pengetahuan perkembangan sosio emosional peserta didik yang dimiliki para guru masih kurang. Guru belum melakukan perencanaan dan pengembangan peserta didik sesuai kondisi siswa. Guru belum mampu melakukan pengelolaan kelas secara optimal. Kualitas guru dalam melakukan pendampingan terhadap orangtua dan siswa masih belum memadai, bahkan para guru belum memiliki ketrampilan reflektif, perencanaan pengembangan pribadi, dan belajar mandiri (Pramardi, 2011: 847-848).

Manusia  adalah  makhluk  sosial  yang  saling berinteraksi  antara  satu dengan  yang  lain.  Untuk  dapat  berinteraksi, dibutuhkan  sarana  yang  mampu  menjembatani,  yaitu  bahasa. Bahasa merupakan sistem simbol lisan yang arbriter. Biasanya  dipakai oleh suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan beriteraksi antar sesamanya, berlandasakan pada budaya yang mereka miliki bersama (Dardjowidjojo, 2005: 16). Pemerolehan bahasa merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya. Anak tidak diajarkan kata-kata kemudian diberitahu artinya, melainkan melalui pengalamannya ia belajar menghubungkan antara pengalaman dan lambang bahasa batini (inner language). Baru setelah itu, anak mulai memahami hubungan antara lambang bahasa dengan benda atau kejadian yang dialaminya, dan terbentuklah bahasa reseptif anak. Setelah bahasa reseptif agak terbentuk, anak mulai mengungkapkan diri melalui pendengaran.

Permasalahan keterbahasaan menjadi masalah yang fundamental bagi anak tunarungu kerena persoalan keberbahasaan ini berakibat pada dimensi komunikasi dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Ketidakmampuan penderita tunarungu berkomunikasi secara normal ini menimbulkan labelling negative pada mereka. Labelling negatif yang diberikan oleh orang awam kepada anak-anak tunarungu membuat mereka merasa outgroup. Seringkali penderita tunarungu memandang suram masa depan dan kemampuan mereka yang sebenarnya bisa berkembang namun seakan pupus karena rasa pesimisme. Label-label tersebut diberikan hanya karena pertimbangan aspek ketunarunguan, dan tidak mempertimbangkan aspek intelegensi anak serta aspek demografis lainnya. Anak tunarungu juga memiliki label egosentris, keras kepala, dan sering gagal membina komunikasi dengan orang lain.

Secara umum penderita tunarungu mempunyai perbedaan dengan anak mendengar. Penyebabnya adalah kondisi fisik, kecenderungan emosi, dan karakteristik intelektualnya. Penderita tunarungu dalam perkembangannya mendapatkan hambatan-hambatan yang mempengaruhi pribadi dan penyesuaian diri terutama efek dari keadaan kurang mendengar. Kurangnya pendengaran mempengaruhi pula proses komunikasi, pengertian, pembicaraan, membaca dan bahasa. Sebagai manusia dengan intelegensi dan alat bicara normal, walaupun terhambat pendengarannya, mereka bisa berbahasa. Dalam memperoleh bahasa, mereka mempunyai karakteristik tersendiri dibanding manusia yang mempunyai pendengaran normal. Anak tunarungu akan belajar memahami ujaran melalui media membaca ujaran. Membaca ujaran  merupakan unsur atau dasar sistem bahasa batinnya. Batini penderita tunarungu terdiri dari kata-kata sebagaimana tampil pada gerak dan corak sebagai pengganti bunyi bahasa yang berupa vokal, konsonan, dan intonasi pada anak mendengar. Berangkat dari pentingnya fenomena bahasa tentang perolehan bahasa pada penderita tunarungu yang khususnya bertempat di Jombang, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai perolehan bahasa pada penderita tunarungu di Jombang.

 

  1. Batasan Masalah

Batasan masalah dilakukan peneliti unyuk mengantisipasi pemahaman yang salah pada sasaran yang dimaksud. Penelitian yang dilakukan adalah seputar tahap dan pemerolehan bahasa pada siswa yang merupakan penderita tunarungu di SDLB Sabilillah Cukir.

 

  1. Rumusan Masalah

Dari paparan batasan masalah di atas, dapat dirumuskan pokok masalah sebagai berikut.

  1. Bagaimana tahap-tahap pemerolehan bahasa pada penderita tunarungu?
  2. Bagaimana bentuk pemerolehan bahasa pada penderita tunarungu di SDLB Sabilillah Cukir?

 

  1. Tujuan Penulisan
    1. Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menambah wawasan pembaca mengenai pemerolehan bahasa penderita tunarungu di Jombang, yang nantinya dapat dijadikan sebagai tambahan referensi bagi pembacanya.

  1. Tujuan Khusus

Selain tujuan umum, penelitian ini mempunyai tujuan khusus yang dicapai oleh peneliti sebagai berikut.

  1. Untuk memperoleh deskripsi secara objektif tentang tahap-tahap pemerolehan bahasa pada penderita tunarungu.
  2. Untuk memperoleh deskripsi secara objektif tentang bentuk pemerolehan bahasa pada penderita tunarungu di Jombang.

 

  1. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini  diharapkan memiliki manfaat baik teoritis maupun praktis.

  1. Manfaat Teoritis

Diharapkan hasil penelitian dapat memperkaya khasanah penelitian bahasa khususnya pada disiplin  psikolinguistik tentang pemerolehan bahasa.

  1. Manfaat Praktis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberi informasi yang benar berkaitan dengan pemerolehan bahasa pada penderita tunarungu, sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam pengajaran bahasa untuk penderita tunarungu.

 

  1. Definisi Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan istilah-istilah yang berhubungan dengan judul penelitian ini. Istilah istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut.

Pemerolehan bahasa diartikan sebagai proses perkembangan alami yang merujuk pada periode bahasa pertama, dalam bahasan kali ini berkenaan dengan bahasa penderita tuna rungu. Tunarungu dapat diartikan sebagai keadaan dari seorang individu yang mengalami kerusakan pada indera pendengaran sehingga menyebabkan tidak bisa menangkap berbagai rangsang suara atau rangsang lain melalui pendengaran (Suharmini, 2009: 35).

Pemerolehan bahasa pertama terjadi tanpa disadari. Bahasa dalam periode ini digunakan untuk keperluan komunikasi semata tanpa kesadaran akan adanya kaidah bahasa. Pemerolehan bahasa ini merupakan belajar yang informal, natural atau dapat dikatakan seolah anak “memungut” bahasa. Pemerolehan bahasa pertama penderita tunarungu perlu diperluas agar mencakup sifat bimodal dan bilingual dalam proses pemerolehan bahasa pertamanya yang dididik dengan isyarat di samping bicara awal/dini. Dengan bimodal, anak dididik dengan dua modalitas atau dua media komunikasi sekaligus, yaitu isyarat dan oral/bicara. Dengan bilingual, dimaksudkan suatu situasi kedwibahasaan penderita tuna rungu dididik dengan bahasa isyarat dan bahasa masyarakat orang mendengar (Stahlam dan Luccker, 2000:39).

Tahap-tahap pemerolehan bahasa, yakni bagian proses bagaimana penderita tunarungu tersebut memperoleh bahasa. Pertama, pendekatan dalam metode komunikai penderita tunarungu. Penderita tunarungu membutuhkan pendekatan tersendiri dalam komunikasinya. Ada dua pendekatan dalam metode komunikasi dan pengajaran bagi penderita tuna rungu, yaitu pendekatan komunikasi (kode bahasa) dan pendekatan pengajaran bahasa. Kedua, tahap pembelajaran bahasa pada anak tunarungu usia 4-5 tahun. Yakni berkaitan dengan tahap meraban, prapercakapan dari hati ke hati, percakapan dari hati ke hati, visualisasi, dan refleksi.

Bentuk pemerolehan bahasanya, bentuk yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan hasil nyata dari tahap-tahap pemerolehan bahasa yang dibahas sebelumnya. Penderita tunarungu yang berpendidikan formal, akan ditangani oleh orang yang tepat pula dengan cara-cara yang professional, yakni dengan belajar Menirukan dan Mengucapkan Kembali, belajar keterarahwajahan, mengidentifikasi objek, berbicara, menebalkan tulisan, menulis.

untuk makalah selengkapnya bisa anda download DISINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s