Makalah Kritik Sastra : Struktur Lapis Makna (Neveau)

Standar

KAJIAN STRUKTUR LAPIS MAKNA ANTOLOGI PUISI

CHAIRIL ANWAR: AKU INI BINATANG JALANG

(KOLEKSI SAJAK 1942-1949)

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra terdiri dari dua jenis sastra (genre), yakni prosa dan puisi. Prosa disebut sebagai karangan bebas. Karangan bebas dalam pengertiannya ialah tidak terikat oleh aturan-aturan yang terikat. Puisi adalah karangan terikat oleh aturan-aturan yang ketat. Perbedaan pokok antara puisi dengan prosa adalah dalam hal tipografinya atau struktur tematiknya. Tipografi puisi sejak kelahirannya menunjukan baris-baris khusus yang membentuk kesatuan sintaksis sepeti dalam prosa. Baris-baris dalam prosa berkesinambungan membentuk kesatuan sintaksis. Dalam puisi terjadi kesenyapan antara baris yang satu dengan baris yang lain karena kosentrasi bahasa sangatlah kuat.

Puisi adalah institusi makhluk yang bernama kata-kata [Martin Heidegger (1889-1976), dalam Friedrich Hölderlin]. Jadi, dari pernyataan itu dapatlah disimpulkan bagaimana penting dan kardinalnya kedudukan kata-kata dalam kehidupan ini menurut pendapat sorang filsuf; yang pikiran, pendapat, dan jalan kehidupannya penuh dengan kontroversi sepanjang abad ke-20. Institusi atau perlembagaan yang terdiri dan bernama kata-kata itulah yang membina sebuah rumah yang diberi nama oleh penyairnya (Budy Utamy).

Peneliti melakukan sebuah kajian struktur lapis makna (neveau) pada antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Bintang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949). Pemahaman kita tentang kajian struktur lapis makna (neveau) akan lebih lengkap bila kita mempelajari beberapa hal yang berkenaan dengan kajian struktur makna (neveau). Oleh karena itu, pada makalah ini diberi judul Kajian Struktur Lapis Makna Antologi Puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949).

  1. Permasalahan
  2. Batasan Masalah

Peneliti mengkaji antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949) dari struktur lapis makna (neveau), yang kajiannya meliputi:

  1. Neveau anorganik
  2. Neveau vegetatif
  3. Neveau animal
  4. Neveau humanis
  5. Neveau metafisika/transendental

Kelima neveau tersebut selanjutnya dijadikan aspek untuk mengkaji antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949).

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan rumusan masalahnya sebagai berikut:

  1. Bagaimana neveau anorganik dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  2. Bagaimana neveau vegetatif dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  3. Bagaimana neveau animal dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  4. Bagaimana neveau humanis dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  5. Bagaimana neveau metafisika/transendental dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  1. Tujuan

Dari rumusan masalah di atas maka dapat diketahui tujuan masalahnya, yakni :

  1. Untuk mengetahui neveau anorganik dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  2. Untuk mengetahui neveau vegetatif dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  3. Untuk mengetahui neveau animal dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  4. Untuk mengetahui neveau humanis dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?
  5. Untuk mengetahui neveau metafisika/transendental dalam antologi puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949)?

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Unsur Pembangun Puisi

Sebuah puisi adalah sebuah struktur yang terdiri dari unsur pembangun. Unsur-unsur tadi dinyatakan bersifat padu karena tidak dapat dipisahkan tanpa mengaitkan unsur lainnya. Unsur-unsur itu bersifat fungsional terhadap unsur lainnya.

Dick Hartoko (Waluyo, 1987:27), menyebutkan adanya dua unsur penting dalam puisi, yakni unsur semantik dengan unsur sintatik puisi. Unsur semantik atau tematik menunjukan ke arah struktur batin, sedangkan unsur sintatik menunjukan ke arah struktur fisik.

Bentuk karya sastra mempunyai struktur yang berbeda dengan prosa. Perbedaan itu tidak hanya dari struktur fisiknya, tetapi juga dalam hal struktur batin, penciptaan puisi menggunakan prinsip pemadatan atau pengkonsentrasian bentuk dan makna. Puisi terdiri dari dua unsur pokok yakni struktur fisik dan struktur batin. Kedua bagian itu terdiri atas unsur-unsur yang saling mengikat keterjalinan dan semua unsur itu membentuk totalitas makna yang utuh. Dalam penafsiran puisi tidak dapat lepas dari faktor genetik puisi. Faktor genetik puisi dapat memperjelas makna yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan khas penyair. Unsur genetik itu adalah penyair dan kenyataan sejarah.

  1. Struktur Puisi

Struktur adalah bagaimana bagian-bagian dari sesuatu berhubungan satu dengan lain atau bagaimana sesuatu tersebut disatukan. Struktur adalah sifat fundamental bagi setiap sistem. Identifikasi suatu struktur adalah suatu tugas subjektif, karena tergantung pada asumsi kriteria bagi pengenalan bagian-bagiannya dan hubungan mereka. Karenanya, identifikasi kognitif suatu struktur berorientasi tujuan dan tergantung pada pengetahuan yang ada.

Dengan demikian, struktur dikaitkan dengan puisi maka suatu bagian yang terdapat di dalam puisi tersebut. Sehingga struktur dalam puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut akan meliputi bunyi, kata, larik atau baris, bait, dan tipografi (Aminuddin, 1987:136).

Struktur puisi disebut sebagai salah satu unsur yang dapat diamati secara visual karena dalam puisi juga terdapat unsur-unsur yang hanya dapat ditangkap melalui kepekaan batin dan daya kritis pemikiran pembaca. Unsur dalam puisi pada dasarnya adalah merupakan unsur yang tersembunyi dibalik apa yang dapat diamati secara visual.

Selain itu, dalam puisi terdapat neveau-neveau yang juga membangun struktur puisi tersebut. Neveau-neveau ini harus ada dalam tiap karya sastra, terutama puisi. Bila dalam suatu karya (puisi) tidak memiliki salah satu dari neveau ini makan karya sastra tersebut tidak dapat dikatakan sebagai karya sastra yang “sempurna”, bermutu tinggi. Jadi, karya sastra yang “sempurna”, bermutu tinggi, semestinya di dalamnya terkandung kelima tingkatan pengalaman jiwa yang disebut neveau atau lapis makna.

 

  1. Struktur Lapis Makna

Adanya kelima tingkatan struktur lapis makna (neveau) merupakan indikator sejauhmana kualitas karya sastra yang ditelaah. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan J. Elema, bahwa karya sastra yang bernilai apabila memiliki kelima tingkatan nilai itu secara lengkap, tidak hanya sampai lapis keempat, apalagi hanya lapis kedua atau ketiga. Jika lapis nilai yang kita temukan dalam karya sastra hanya sampai pada neveau animal, maka karya sastra tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai karya sastra yang bernilai. Kelima tingkatan struktur lapis makna (neveau) tersebut yakni:

  1. Neveau Anorganik

Neveau anorganik yaitu neveau yang berkaitan dengan tingkatan nilai dan hal-hal yang langsung bisa diindera karena visualitas dan ketampakannya. Dalam telaah puisi, lapisan nilai anorganik dapat dilihat melalui bentuk tipografi, susunan kata dalam baris, susunan baris dalam bait, rumus sajak, dan lain-lain. Dalam prosa, nilai tersebut dapat dilihat dari aspek pengkalimatan, penyusunan paragraf, dan perwujudannya (Fananie, 2000:78).

Dalam puisi Nisan, dapat dilihat adanya keteraturan susunan tipografi dan persajakan. Susunan rimanya berupa a-b-a-b seolah puisi tersebut telah memenuhi neveau anorganik. //Bukan kematian benar menusuk kalbu/Keridlaanmu menerima segala tiba/Tak kutahu setinggi itu atas debu/Dan duka maha tuan bertakhta// (hal.3).

  1. Neveau Vegetatif

            Neveau vegetaif yaitu neveau yang mengungkapkan adanya kehidupan yang alami dan naluriah. Struktur kalimat yang menunjukkan nilai tersebut misalnya: himbauan sang bayu, gelora samudra, permainan cuaca, keheningan malam, kemarau berdebu, ketam merangkak di paya-paya, kucing menembus malam, lalu lintas memadati metropolitan, dan sebagainya (Fananie, 2000:78).

Neveau vegetatif terlihat dalam bait berikut: //Rumahku dari unggun-timbun sajak/Di sini aku berbini dan beranak// (hal.23). betapa Chairil mengungkapkan unggun-timbun sajak sebagai rumahnya, kemudian ia berbini dan beranak di dalamnya. Kehidupan yang alami dan naluriah telah ia jelmakan ke dalam puisi Rumahku ini.

  1. Neveau Animal

   Neveau animal yaitu neveau yang melukiskan nilai-nilai yang sudah dicemari nafsu-nafsu rendah, keserakahan, kebinalan, kemesuman, kekejian, sampai hal-hal yang tercela. Hal tersebut, misalnya dapat dilihat dari adegan-adegan saling mencaci, nafsu menjarah, menggencet si lemah, perbuatan tidak senonoh, memasabodohkan Tuhan, menghina, dan sebagainya (Fananie, 2000:78).

Realitas yang terbangun dari kehidupan Chairil Anwar yang bohemian memang terjelmakan dalam sajaknya Tuti Artic. Chairil melukiskan “percintaan”nya dengan istrinya, Tuti, Greet, dan Amoi. //Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa/ (hal.70). Ia “pandai” benar “memuaskan” hasrat perempuan, hingga /panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara/. Kehidupannya yang “jorok” dan penuh kemesuman menjadi bahan dalam penciptaan puisi-puisinya.

  1. Neveau Humanis

            Neveau humanis yaitu neveau yang merupakan lapis kehidupan yang sudah mengendapkan kesadaran kemanusiaan sebagai makhluk eksistensial di muka bumi. Di sini dilukiskan juga masalah kesepian, meditasi, kerinduan, bahagia, cinta, cita, dan keterbatasan. Begitu pula ungkapan hal-hal yang berkaitan dengan moral kemanusiaan serta hal-hal yang sifatnya manusiawi. Kisah-kisah cinta yang menggetarkan, seperti Romeo dan Juliet dan Roro Mendut dan Pronocitro, merupakan contoh neveau humanis. Juga karya-karya Chairil Anwar, Rendra, Goenawan Muhammad, adalah karya sastra yang kaya akan neveau humanis (Fananie, 2000:78-79).

            Chairil Anwar sudah mengendapkan segala yang ia cerna dalam hidupnya. Ia sadar bahwa hidup harus dilakoni dan menjadi ruang kontemplasi untuk kehidupan yang akan datang. Ia juga mengakui jati dirinya sebagai makhluk yang bertuhan. //Kuseru saja Dia/Sehingga datang juga/…/Bersimpuh peluh diri yang tak bisa diperkuda// (Di Mesjid, hal.31).

  1. Neveau Metafisika/Transendental

         Neveau ini merupakan perwujudan kesadaran manusia akan adanya nilai-nilai yang lebih tinggi daripada hal-hal yang tampak di permukaan dan keseharian. Adanya kesadaran akan dosa, rasa religiusitas, keimanan akan Tuhan dan kehidupan akhirat, pentingnya berbuat baik, dan berbakti kepadaNya merupakan perwujudan dari neveau ini (Fananie, 2000:79).

         Sajaknya yang berjudul Doa, secara tidak langsung merupakan pengakuan seorang ahasvéros yang mencari jalan kembali kepada Tuhannya. Sebuah pengakuan /aku hilang bentuk/remuk/, adalah wujud kelemahan diri sang binatang jalang dalam mengarungi segala bentuk liku kehidupan. Dan di akhir sajaknya, ia mengungkapkan pengakuan retoris, /Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling// (hal.41).

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Karya sastra terdiri dari dua jenis sastra (genre), yakni prosa dan puisi. Prosa disebut sebagai karangan bebas. Karangan bebas dalam pengertiannya ialah tidak terikat oleh aturan-aturan yang terikat. Puisi adalah karangan terikat oleh aturan-aturan yang ketat. Perbedaan pokok antara puisi dengan prosa adalah dalam hal tipografinya atau struktur tematiknya. Tipografi puisi sejak kelahirannya menunjukan baris-baris khusus yang membentuk kesatuan sintaksis sepeti dalam prosa. Baris-baris dalam prosa berkesinambungan membentuk kesatuan sintaksis. Dalam puisi terjadi kesenyapan antara baris yang satu dengan baris yang lain karena kosentrasi bahasa sangatlah kuat.

Puisi adalah institusi makhluk yang bernama kata-kata [Martin Heidegger (1889-1976), dalam Friedrich Hölderlin]. Jadi, dari pernyataan itu dapatlah disimpulkan bagaimana penting dan kardinalnya kedudukan kata-kata dalam kehidupan ini menurut pendapat sorang filsuf; yang pikiran, pendapat, dan jalan kehidupannya penuh dengan kontroversi sepanjang abad ke-20. Institusi atau perlembagaan yang terdiri dan bernama kata-kata itulah yang membina sebuah rumah yang diberi nama oleh penyairnya (Budy Utamy).

Bentuk karya sastra mempunyai struktur yang berbeda dengan prosa. Perbedaan itu tidak hanya dari struktur fisiknya, tetapi juga dalam hal struktur batin, penciptaan puisi menggunakan prinsip pemadatan atau pengkonsentrasian bentuk dan makna. Puisi terdiri dari dua unsur pokok yakni struktur fisik dan struktur batin. Kedua bagian itu terdiri atas unsur-unsur yang saling mengikat keterjalinan dan semua unsur itu membentuk totalitas makna yang utuh. Dalam penafsiran puisi tidak dapat lepas dari faktor genetik puisi. Faktor genetik puisi dapat memperjelas makna yang dilatarbelakangi oleh kebudayaan khas penyair. Unsur genetik itu adalah penyair dan kenyataan sejarah.

  1. SARAN

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah tentang Kajian Struktur Lapis Makna Antologi Puisi Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942-1949) mengalami berbagai kesulitan, dikarenakan keterbatasan SDM penulis dan kekurangan referensi tentang ilmu kritik sastra. Namun itu semua bukan kendala dalam menyelesaikan makalah ini meskipun banyak di sana-sini “belepotan”nya.

Untuk itu, kritik dan saran pembaca sangat penulis nantikan demi perbaikan-perbaikan penulisan di masa yang akan datang, terutama demi perkembangan bahasa Indonesia dikancah nasional maupun internasional, khususnya bagi perkembangan ilmu kritik sastra di Indonesia.

Semoga menjadi manfaat bagi kita semua. Amin!

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1988. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru

Askuri, Akhmad. 2002. Pengantar Kesusastraan Indonesia. Kediri: Pelita Media

Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, dan Willem G. Westeijn. 1992. (1984). Pengantar Teori Sastra (Terjemahan Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia

Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, dan Willem G. Westeijn. 1989. Tentang Sastra (Terjemahan Akhadiyti Ikram). Jakarta: Intermasa

Natawidjaja, P. Suparman. 1980. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta: Intermasa

Pradopo, Rahmat Djoko. 1997. Teori Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

(klubsastra@yahoogrups.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s