Teori Kebutuhan Antar Pribadi

Standar

Teori Kebutuhan Antar Pribadi

(FIRO – Fundamental Interpersonal Relations Orientations)

Teori ini diutarakan oleh William Schutz (1958) dengan Postulat Schutz-nya yang berbunyi bahwa setiap manusia memiliki tiga kebutuhan antarpribadi yang disebut dengan inklusif kontrol ­dan afeksi. Asumsi dasar teori ini adalah bahwa manusia dalam hidupnya membutuhkan manusia lain (manusia sebagai makhluk sosial).

Menurut teori ini, ada tiga macam kebutuhan antarpribadi, yaitu kebutuhan antarpribadi untuk inklusi, kebutuhan antarpribadi untuk kontrol, dan kebutuhan antarpribadi untuk afeksi. Di bawah akan akan saya coba jelaskan satu-persatu.

1. Kebutuhan Antar Pribadi untuk Inklusi : Yaitu kebutuhan untuk mengadakan dan mempertahankan komunikasi antarpribadi yang memuaskan dengan orang lain, sehubungan dengan interaksi dan asosiasi. Tingkah laku inklusi adalah tingkah laku yang ditujukan untuk mencapai kepuasan individu. Misalnya keinginan untuk asosiasi, bergabung dengan sesama manusia, berkelompok.

Tingkah laku inklusi yang positif memiliki ciri-ciri: ada persamaan dengan orang lain, saling berhubungan dengan orang lain, ada rasa menjadi satu bagian kelompok dimana ia berada, berkelompok atau bergabung. Tingkah laku inklusi yang negatif misalnya menyendiri dan menarik diri.

tipe inklusi dibagi menjadi tiga jenis :
1. Tipe sosial; seseorang yang mendapatkan pemuasan kebutuhan antarpribadi secara ideal.
2. Tipe undersosial; tipe yang dimiliki oleh seseorang yang mengalami kekurangan dalam derajat pemuasan kebutuhan antarpribadinya. Karakteristiknya adalah selalu menghindar dari situasi antar kesempatan berkelompok atau bergabung dengan orang lain. Ia kurang suka berhubungan atau bersama dengan orang lain.
3. Tipe oversosial; seseorang mengalami derajat pemuasan kebutuhan antarpribadinya cenderung berlebihan dalam hal inklusi. Ia cenderung ekstravert. Ia selalu ingin menghubungi orang lain dan berharap orang lain juga menghubunginya.

Ada juga tipe inklusi yang patologis yaitu seseorang yang mengalami pemuasan kebutuhan antarpribadi secara patologis. Jika hal ini terjadi maka orang tersebut terbilang gagal dalam usahanya untuk berkelompok.

2. Kebutuhan Antar Pribadi Untuk Kontrol
Adalah kebutuhan untuk mengadakan serta mempertahankan komunikasi yang memuaskan dengan orang lain berhubungan dengan kontrol dan kekuasaan. Proses pengambilan keputusan menyangkut boleh atau tidaknya seseorang untuk melakukan sesuatu perlu ada suatu kontrol dan kekuasaan. Tingkah laku kontrol yang positif, yaitu: mempengaruhi, mendominasi, memimpin, mengatur. Sedangkan tingkah laku kontrol yang negatif, yaitu: memberontak, mengikut, menurut.
Ada beberapa tipe kontrol, yaitu:
1. Tipe kontrol yang kekurangan (abdicrat); seseorang memiliki kecenderungan untuk bersikap merendahkan diri dalam tingkah laku antarpribadinya. Seseorang cenderung untuk selalu mengambil posisi sebagai bawahan (terlepas dari tanggungjawab untuk membuat keputusan).
2. Tipe kontrol yang berlebihan (authocrat); seseorang menunjukkan kecenderungan untuk bersikap dominan terhadap orang lain dalam tingkah laku antarpribadinya. Karakteristiknya adalah seseorang selalu mencoba untuk mendominasi orang lain dan berkeras hati untuk mendudukkan dirinya dalam suatu hirarki yang tinggi.
3. Tipe kontrol yang ideal (democrat); seseorang akan mengalami pemuasan secara ideal dari kebutuhan antarpribadi kontrolnya. Ia mampu memberi perintah maupun diperintah oleh orang lain. Ia mampu bertanggung jawab dan memberikan tanggung jawab kepada orang lain.
4. Tipe kontrol yang patologis; seseorang yang tidak mampu atau tidak dapat menerima kontrol dalam bentuk apapun dari orang lain.

3. Kebutuhan Antar Pribadi untuk Afeksi
Yaitu kebutuhan untuk mengadakan serta mempertahankan komunikasi antarpribadi yang memuaskan dengan orang lain sehubungan dengan cinta dan kasih sayang. Afeksi selalu menunjukkan hubungan antara dua orang atau dua pihak.

Tingkah laku afeksi adalah tingkah laku yang ditujukan untuk mencapai kebutuhan antarpribadi akan afeksi. Tingkah laku afeksi menunjukkan akan adanya hubungan yang intim antara dua orang dan saling melibatkan diri secara emosional. Afeksi hanya akan terjadi dalam hubungan antara dua orang (diadic – Frits Heider, 1958)). Tingkah laku afeksi yang positif: cinta, intim/akrab, persahabatan, saling menyukai. Tingkah laku afeksi yang negatif: kebencian, dingin/tidak akrab, tidak menyukai, mengambil jarak emosional.

Ada beberapa tipe afeksi, yaitu:
1. Tipe afeksi yang ideal (personal); seseorang yang mendapat kepuasan dalam memenuhi kebutuhan antarpribadi untuk afeksinya.
2. Tipe afeksi yang kekurangan (underpersonal); seseorang dengan tipe ini memiliki kecenderungan untuk selalu menghindari setiap keterikatan yang sifatnya intim dan mempertahankan hubungan dengan orang lain secara dangkal dan berjarak.
3. Tipe afeksi yang berlebihan (overpersonal); seseorang yang cenderung berhubungan erat dengan orang lain dalam tingkah laku antarpribadinya.
4. Tipe afeksi yang patologis; seseorang yaang mengaalami kesukaran dan hambatan dalam memenuhi kebutuhan antarpribadi afeksinya, besar kemungkinan akan jatuh dalam keadaan neorosis.

Dari ketiga tipe kebutuhan antarpribadi dapat diambil kesimpulan bahwa kebutuhan antarpribadi untuk inklusi merupakan kebutuhan untuk individu dalam kaitannya dengan interaksinya dalam sebuah kelompok sosial. Kebutuhan antarpribadi untuk kontrol bertujuan membantu individu dalam berinteraksi dengan kelompoknya dengan memberikan sifat kontrol kepada individu serta positioning (penempatan diri) individu dalam kelompok tersebut. Dan kebutuhan antarpribadi untuk afeksi membantu individu untuk berinteraksi dengan orang perorangan (personal) anggota kelompok tadi.

Kategori ini mengukur berapa banyak interaksi seseorang ingin di bidang sosialisasi, kepemimpinan dan tanggung jawab, dan hubungan pribadi yang lebih intim. Firo-B dibuat, berdasarkan teori ini, suatu instrumen pengukuran dengan skala yang menilai aspek perilaku dari tiga dimensi. Skor yang dinilai dari 0-9 dalam skala perilaku disajikan dan ingin, yang menentukan seberapa banyak seseorang mengungkapkan kepada orang lain, dan betapa dia inginkan dari orang lain. Schutz percaya bahwa Firo skor di sendiri tidak terminal, dan dapat dan memang berubah, dan tidak mendorong tipologi, namun, keempat temperamen akhirnya dipetakan dengan skala Firo-B, yang menyebabkan terciptanya teori Lima temperamen.

Schutz sendiri membahas dampak dari perilaku ekstrem di bidang inklusi, kontrol, dan kasih sayang yang ditunjukkan dengan nilai pada Firo-B. Untuk setiap wilayah interpersonal memerlukan tiga jenis perilaku berikut akan jelas: (1) kekurangan, (2) yang berlebihan, dan (3) yang ideal. Kekurangan didefinisikan sebagai menunjukkan bahwa seorang individu tidak berusaha untuk secara langsung memenuhi kebutuhan. Berlebihan didefinisikan sebagai menunjukkan bahwa individu selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan. Ideal dimaksud kepuasan kebutuhan. Dari ini, ia mengidentifikasi jenis berikut:

Inklusi jenis.

1. yang undersocial (EI rendah, WI rendah)
2. yang oversocial (EI tinggi, WI tinggi)
3. sosial (EI moderat, WI moderat)

Kontrol jenis

1. yang abdicrat (EC rendah, WC tinggi)
2. yang otokrat (EC tinggi, WC rendah)
3. demokrat (EC moderat, WC moderat)

Sayang jenis

1. yang underpersonal (EA rendah, WA rendah)
2. yang overpersonal (EA tinggi, WA tinggi)
3. pribadi (moderat EA WA sedang)

Nb :Tulisan saya ini didapat dari berbagai sumber, termasuk dari internet juga. Niat awal sih hanya untuk konsumsi pribadi..maksud saya : skripsi saya menggunakan teori ini.. hehehehe…Jika anda mempunyai pemahaman lebih dalam, bolehlah kiranya kita berdiskusi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s