BAHASA SEBAGAI SISTEM SEMIOTIK

Standar

PENGERTIAN BAHASA

DAN BAHASA SEBAGAI SISTEM SEMIOTIK

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami Panjatkan Kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan Rahmat-Nyalah kami dapat menyusun makalah mata kuliah Semantik Bahasa Indonesia.

Makalah ini merupakan tugas kelompok yang wajib dibuat oleh setiap kelompok mahasiswa, yang diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah.

Semoga dengan disusunnya makalah kami ini, dapat memberi pengetahuan atau wawasan kita. Tentang pengertian bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik.

Kami menyadari makalah yang disusun ini, jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat kami harapkan agar dapat menjadi lebih baik nantinya.

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. ……. …..i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….. ………… ii

BAB I      PENDAHULUAN

A.    Latar belakang……………………………………………………………….. ………… 1

B.     …………………………………………………………………………………….. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………. …………2

C.     Tujuan pembahasan……………………………………………………2

BAB II     PEMBAHASAN

A.  Pengertian Bahasa…………………………………………………….3

B.  Ciri-Ciri Bahasa………………………………………………………4

C.  Bahasa sebagai sistem semiotik………………………………………6

BAB III   PENUTUP

A.    Kesimpulan …………………………………………………………………… ……. .10

B.     Saran………………………………………………………………….10

DAFTAR  PUSTAKA………………………………………………………………11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang

Bahasa pada dasarnya merupakan sesuatu yang khas dimiliki manusia (Aminuddin, 2003 : 17). Ernst Cassirer dalam hal ini menyebutkan manusia sebagai animal symbolicum, yakni makhluk yang menggunakan media berupa simbol kebahasaan dan memberi arti serta mengisi kehidupannya. Keberadaan manusia sebagai animal symbolicum lebih berarti dari pada keberadaan manusia sebagai makhluk berpikir, karena tanpa adanya simbol, manusia tidak akan mampu melangsungkan kegiatan berpikirnya. Selain itu, dengan adanya simbol itu juga memungkinkan manusia untuk bukan hanya sekedar berpikir, melainkan juga mendapatkan kontak dengan realitas kehidupan di luar diri serta mengabdikan hasil berpikir dan kontak itu kepada dunia.

Bahasa berperan antara lain dalam (a) membentuk pengalaman sehubungan dengan tanggapan terhadap dunia luar secara simbolik, (b) menjadi alat yang menyertai dan membentuk proses berpikir, (c) berperanan dalam mengolah gagasan, serta (d) menjadi alat penyampai gagasan lewat kegiatan komunikasi. Masalahnya sekarang, bagaimanakah karakteristik bahasa itu sebagai milik khas manusia, sebagai sistem semiotik dan kaitannya dengan makna. Pembahasan masalah itu diharapkan bisa memberikan gambaran bahwa menghadirkan dan memahami makna melibatkan sejumlah unsur yang mungkin saja kompleks. Hal itu terjadi karena makna yang bermula dari kata, selain melibatkan pemakai, juga melibatkan unsur sosial budaya.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulisan makalah ini diberi judul Pengertian Bahasa dan Bahasa Sebagai Sistem Semiotik

.

1.2.   Rumusan Masalah

Agar penulisan ini lebih terarah dan tidak kabur makna, maka penulisan kali ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1.   Bagaimanakah pengertian bahasa?

2.   Bagaimanakah ciri-ciri bahasa?

3.   Bagaimanakah bahasa sebagai sistem semiotik?

1.3.   Tujuan

Suatu tulisan yang baik harus memiliki tujuan yang jelas. Oleh karena itu, tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut.

1.   Mengetahui pengertian bahasa.

2.   Mengetahui ciri-ciri bahasa.

3.   Mengetahui bahasa sebagai sistem semiotik.

BAB II

PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dibahas mengenai pengertian bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik. Berikut ini uraian tentang pengertian bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik, serta ciri-ciri dalam bahasa.

2.1.   Pengertian Bahasa

Batasan pengertian bahasa yang lazim diberikan, yaitu bahasa adalah sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 1982 : 17). Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis dan sistemis, dikatakan sistemis karena bahasa memiliki kaidah atau aturan tertentu. Bahasa juga bersifat sistemis karena memiliki subsistem, yakni subsistem fonologis, subsitem gramatikal, dan subsistem leksikal. Beberapa hal menarik yang dapat disimpulkan dari batasan pengertian itu adala h (a) bahasa merupakan suatu sistem, (b)Sebagai sistem, bahasa bersifat arbitrer, dan (c) sebagai sistem arbitrer, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.

Bahasa memiliki komponen-komponen yang tersusun secara hierarkis. Komponen itu meliputi komponen fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantis. Masing-masing komponen tersebut saling memberi arti, saling berhubungan dan saling menentukan.

Pada sisi lain, setiap komponen juga memiliki sistemnya sendiri. Sistem pada tataran bunyi, misalnya dikaji bidang fonologi, pada tataran kata dikaji bidang morfologi, dan kajian sistem pada tataran kalimat menjadi wilayah sintaksis. Sebagai subsistem, masing-masing komponen tersebut juga telah mengandung aspek semantis tertentu sehingga secara potensial dapat disusun dan dikombinasikan untuk digunakan dalam komunikasi.

Dari kenyataan bahwa bahasa merupakan suatu yang bersistem, maka bahasa sebenarnya, selain bersifat arbitrer, sekaligus juga nonarbitrer (Bolinger, 1981 : 9). Dengan terdapatnya sistem dan sekaligus kesepakatan itulah, bahasa akhirnya dapat digunakan untuk berinterkasi. Pemakaian bahasa dalam interaksi, lebih lanjut juga membuahkan sejumlah ciri lain. Hal itu terjadi karena bahasa bukan satu-satunya alat yang digunakan untuk berinteraksi dalam bentuk komuniaksi. Bahasa memiliki ciri-ciri tertentu yang bersifat khusus. Ciri-ciri tersebut dapat dikaji dalam paparan berikut ini.

2.2.   Ciri-ciri bahasa

Bahasa memliki sifat kabur (vagueness) karena makna yang terkandung didalam bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diwakilinya. Ambiguity berkaitan dengan ciri kataksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Kekaburan dan kataksaan itu diakibatkan oleh kelebihannya yang multifungsi, yakni fungsi simbolik, emotif, dan efektif. Bahasa pun bersifat inexplicitness sehingga tidak secara eksak, tepat, dan menyeluruh untuk mewujudkan gagasan yang dipersentasikannya. Selain itu, pemakaian suatu bentuk bahasa sering berpindah-pindah maknanya sesuai dengan konteks gramatikal, sosial, dan situasional atau bersifat contextdependence.

Adapun ciri-ciri bahasa manusia, apabila dibandingkan dengan bahasa binatang serta sistem tanda lain, seperti telah diungkapkan antara lain oleh Hockett (1960), Osgood (1980), maupun Bolinger (1981), apabila dikaitkan dengan aspek makna, adalah sebagai berikut.

a.    Alat fisis yang digunakan bersifat tetap dan memiliki kriteria tertentu, disebut demikian karena bahasa yang beresensikan bunyi ujaran selalu menggunakan alat ujar sesuai dengan kriteria tertentu.

b.   Organisme yang digunakan, memiliki hubungan timbal balik, alat ujaran yang digunakan manusia, baik berjenis kelamin laki-laki, perempuan, ataupun suku dan bangsa yang berlainan, semuanya sama.

c.    Menggunakan kriteria pragmatik, disebut demikian karena perwujudan bentuk  kebahasaan lewat pemakai, menggunakan kriteria pemakai tertentu.

d.   Mengandung kriteria semantis. Ciri kriteria itu muncul karena kegiatan berbahasa memiliki fungsi semantis tertentu.

e.    Memiliki kriteria sintaksis, disebut demikia karena kata-kata yang digunakan, untuk menjadi suatu kalimat harus disusun sesuai dengan pola kalimat yang telah disepakati.

f.    Melibatkan unsur bunyi maupun unsur audiovisual. disebut demikian karena pemakaian bahasa selain melibatkan media transmisi berupa bunyi, juga melibatkan unsur paralanguage.

g.   Memiliki kriteria kombinasi dan bersifat produktif, terdapatnya ciri itu ditandai oleh adanya potensialitas unsur kebahasaan untuk bergabung secara sintagmatik.

h.   Bersifat arbitrer, karena hubungan antara lambang kebahasaan dengan referen yang dilambangkan hanya berdasrkan kesepakatan, dan bukan pada kemampuan lambang itu dalam memberikan kembali realitas luar yang diacunya.

i.     Memiliki ciri prevarikasi, karena bahasa sebagai realitas terpisah dengan dunia luar yang diwakilinya, setelah muncul dalam pemakaian, isinya bisa benar, bisa tidak.

j.     Terbatas dan relatif tetap, yakni dalam hal pola kalimat struktur kata.

k.   Mengandung diskontinyuitas, secara paradoksal, bahasa, selain memiliki kontinyuitas, oleh Maillet disebutkan juga mengandung diskontinyuitas.

l.     Bersifat hierarkis, bahasa disusun dan dibangun oleh perangkat komponen bunyi, bentuk, kata, kalimat, maupun wancana.

m. Bersifat sistematis dan simultan, meskipun bahasa merupakan suatu komponennya dapat dianalisis secara terpisah, sebagai suatu sistem komponen-komponen tersebut harus digunakan secara laras dan simultan.

n.   Saling melengkapi dan mengisi, Hocket dalam hal ini menyebutkan ciri interchangeability dari bahasa sehingga, meskipun bahasa itu memiliki komponen yang terpisah, karena adanya potensialitas dan mobilitas, masing-masing komponen itu dapat saling dipertukarkan.

o.   Informasi kebahasaan dapat disegmentasi, dihubungkan, disatukan dan diabadikan, dalam kegiatan tuturan, selama masing-masing pemeran masih hidup, bahasa dapat digunakan dalam ruang dan satuan waktu yang berbeda-beda secara berkesinambungan.

p.   Transmisi budaya, yakni bahasa selain dapat digunakan untuk menyampaikan rekaman unsur dan nilai kebudayaan saat sekarang, juga dapat digunakan sebagai alat pewaris kebudayaan itu sendiri.

q.   Bahasa itu dapat dipelajari, baik bahasa yang masih hidup maupun yang sudah mati

r.     Bahasa itu dalam pemakaian bersifat bidimensional, disebut demikian karena makna keberadaannya, selain ditentukan oleh kehadiran dan hubungan antarlambang kebahasaan itu sendiri juga ditentukan oleh pameran serta konteks sosial dan situasionaln yang melatari.

2.3.   Bahasa sebagai sistem semiotik

Dari ciri terakhir yang telah diungkapkan, diketahui bahwa keberadaan bahasa sebagai suatu sistem juga bersifat bidimensional. Sebagai suatu realitas dalam pemakaian, bahasa selain memiliki sistemnya sendiri juga berhubungan dengan sitem lain di luar dirinya. Keberadaan istilah kekerabatan dalam bahasa jawa, seperti bapak, embok, pakdhe, budhe, misalnya ditentukan oleh sisitem kekerabatan dalam masyarakat jawa. Sebab itu, untuk memahaminya, sistem yang melatari harus dipahami terlebih dahulu.

Dihubungkan dengan kata yang terdapat di dalam bahasa itu sendiri, setiap bahasa juga memiliki fungsi deiksis. Pengertian fungsi deiksis ialah fungsi menunjuk sesuatu di luar bentuk kebahasaan. Kedeiksisan itu, dalam setiap bahasa akan meliputi penunjukan terhadap objek, persona, dan peristiwa sehubungan dengan keberadaan pemeran dalam ruang dan waktu (Palmer, 1981 : 60).

Dalam bahasa indonesia misalnya, terdapat bentuk saya, kami, kita maupun kamu, sebagai bentuk yang menunjuk pada persona sebagai pameran. Ini, itu serta di sini, dan di situ, sebagai bentuk yang berkaitan dengan penunjukan jarak ruang antara pameran maupun antara masin-masing pameran dengan objek yang terlibat dalam kegiatan tuturan.

Acuan dari bentuk kamu, itu, maupun kemarin, misalnya, referennya dapat berpindah-pindah. Penentuan referennya baru dapat ditetapkan apabila konteks tuturan sudah diketahui dengan pasti, salah satu bentuk konteks itu , selain struktur adalah konteks sosial dan situasional. Dari terdapatnya sejumlah kenyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa kajian kebahasaan sebagai suatu kode yang telah muncul dalam pemakaian, selain berfokus pada (1) karakteristik hubungan antara bentuk, lambang atau kata yang satu dengan kata yang lainnya, (2) hubungan antara bentuk kebahasaan dengan dunia luar yang diacunya, juga berfokus pada (3) hubungan antara kode dangan pemakainya.

Sejalan dengan terdapatnya tiga pusat kajian kebahasaan dalam pemakaian, maka bahasa dalam sistem semiotik dibedakan dalam tiga komponen sistem (1) sintaksis, yakni komponen yang berkaitan dengan lambang atau sign serta bentuk hubungannya, (2) semantik, yakni unsur yang berkaitan dengan masalah hubungan antara lambang dengan dunia luar yang diacunya, serta (3) pragmatik, yakni unsur ataupun bidang kajian yang berkaitan dengan hubungan antara pemakai dengan lambang dalam pemakaian (Lyons, 1979 : 115). Ditinjau dari sudut pemakaian, telah diketahui bahwa alat komunikasi manusia dapat dibedakan antara media berupa bahasa atau media verbal dengan media nonbahasa atau nonverbal.  Sementara media kebahasaan itu ditinjau dari alat pemunculannya atau channel, dibedakan pula antara media lisan dengan media tulis. Dari kemunkinan terdapatnya unsur suprasegmental maupun kinesiks, maka kalimat dalam dan bentuk tulisan lebih mengutamakan adanya kelengkapan unsur dan kejelasan urutan dari pada secara lisan.

Sistem kaidah penataan lambang secara gramatis selalu berkaitan dengan strata makna dalam suatu bahasa. Pada sisi lain, makna sebagai label yang mengacu realitas tertentu juga memiliki sistem hubungannya sendiri. Unsur pragmatik yakni hubungan antara tanda dengan pemakai menjadi bagian dari sistem semiotik sehingga juga menjadi salah satu cabang kajiannya karena keberadaan tanda tidak dapat dilepaskan dari pemakainya bahlan lebih luas lagi keberadaan suatu tanda dapat dipahami hanya dengan mengembalikan tanda itu ke dalam masyarakat pemakainya, kedalam konteks sosial budaya yang dimiliki.

Aspek pragmatik dalam semiotik sama sekali tidak dikaitkan dengan unsur pemakaian, sebagai unsur yang secara langsung berhubungan dengan konteks sosial dan situasional karena unsur-unsur sosial dan situasional dalam semiotik telah disikapi sebagai unsur (1) sistem pemakaian dan termasuk di dalam sistem pragmatik, (2) unsur kontekstual, baik sosial maupun situasional, sebagai suatu sistem, telah berada di dalam kesadaran kolektif anggota suatau masyarakat bahasa, (3) latar fisis dan situasi hanya berfungsi sekunder. Atau dengan kata lain pusat perhatian semiotik adalah sistem yang mendasari “sistem kebahasaan” dan bukan pada wujud pemakaiannya.

Pendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang tidak dapat dipisahkan dengan pemakai, aspek lambang, dan semantis, juga diungkapkan oleh Ferdinand de Saussure (1916) mengungkapkan bahwa itu mencakup tiga unusur, meliputi (1) la langue, yakni unit sistem kebahasaan yang bersifat kolektif dan dimiliki oleh setiap anggota masyarakat bahasa, (2) la parole, sebagai wujud bahasa yang digunakan anggota masyarakat bahasa itu dalam pemakaian, serta (3) la langage, yaitu wujud dari pengelompokan la parole yang nantinya akan menimbulkan dialek maupun register. Pemahaman terhadap sistem kebahasaan itu tentu sangat berperan dalam upaya memahami wujud kebahasaan atau signal yang direpresentasikan oleh pemakainya.

Dari uraian tentang bahasa sebagai sistem semiotik di atas, dapat disimpulkan bahwa pemakaian bahasa dalam komunikasi diawali dan disertai sejumlah unsur, meliputi (1) sistem sosial budaya dalam suatu masyarakat bahasa, (2) sistem kebahasaan yang melandasi, (3) bentuk kebahasaan yang digunakan, serta (4) aspek semantis yang dikandungnya. Dalam komunikasi, dari keempat unsur di atas yang tertampil secara eksplisit adalah signal, yang oleh Colin Cherry diartikannya sebagai bentuk fisis yang digunakan untuk menyampaikan pesan baik itu ujaran kebahasaan maupun unsur lain yang secara laras menunjang aspek-aspek semantis yang akan direpresentasikan (Cheryy, 1957 : 306).

Dengan demikian, dalam proses komunikasi, signal memiliki dua fungsi. Pertama, signal atau tanda menjadi alat paparan pengirim pesan atau sender. Kedua, tanda juga menjadi tumpuan dalam penerimaan dan upaya memahami pesan. Dapat diketahui bahwa penutur  memiliki hubungan langsung dengan sistem sosial budaya, sistem kebahasaan, aspek semantis, serta signal yang diwujudkannya. Dengan demikian, kunci pemahaman aspek semantis adalah pada penutur atau pemakai yang memiliki atribut sistem kebahasaan serta latar sosial budaya.

Apabila penerima adalah pemakai bahasa yang digunakan penutut, maka hubungan resiprokal besar kemungkinan dapat terjadi. Sementara penerima yang bukan anggota masyarakat bahasa penuturnya, terlebih dahulu harus mengidentifikasi identitas-identitas penutur, berusaha memahami keseluruhannya itu, penerima pesan pasti gagal menerima informasi sehingga komunikasi itu pun tidak berlangsung. Masalah yang segera muncul adalah (1) mengapa signal yang disampaikan dan diterima oleh sesama anggota masyarakat bahasa tidak membuahkan informasi, serta (2) penutur yang bukan anggota masyarakat bahasa dengan hanya memahami sistem kebahasaannya.

BAB II

PENUTUP

3.1.   Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan mengenai pengertian bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik, serta ciri-ciri dalam bahasa, maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

1.   Pengertian bahasa adalah sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri.

2.   Ciri bahasa manusia, apabila dibandingkan dengan sistem tanda lain dan dikaitkan dengan aspek makna mempunyai delapan belas ciri-ciri bahasa.

3.   Bahasa dalam sistem semiotik dibedakan dalam tiga komponen sistem. Tiga komponen sistem tersebut adalah komponen (1) sintaktik, (2) semantik, dan (3) pragmatik.

3.2.    Saran

Pengajian dalam penulisan ini hanya menyoroti secara umum pengertian bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik. Oleh karena itu, untuk lebih memahami seluk-beluk secara terperinci mengenai hubungan pengertian bahasa dan bahasa sebagai sistem semiotik, maka disarankan untuk melakukan pengajian lebih lanjut mengenai pengertian bahasa dan bahasa sebagi sistem semiotik dari segi struktur dan fungsi.

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M.H.,  1981,  A  Glosary of Literary Term, New York :

Holt, Rinehart and Winston, Inc.

Bolinger,  Dwight  L.,  &  Sears,  A.  Donald,  1981,  Aspects of

Language,  New  York : Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Cherry,  Colin,  1957, On Human CommunicationA  Review,

Surveyand Criticsim,  Massachusetss :  The  Technolgy

Press of  Massachhuusetts  Institute of  Technology

Kridalaksana,  Harimurti,  1982,  Kamus  Linguistik,  Jakarta :  Gramedia

Lyons,  Jhon,  1971,  Introduction  To  Theoretical  Linguistics,

London : Cambridge at  The  University  Press

Osgood,  Charles  E.,  1980,  Lectures on  Language  Performance,

New  York : Springer-Verlag New York, Inc.

Palmer,  F.R.,  1981,  Semantics,  London :  Cambredge  University Press

Aminudin.  1988.  Semantik.  Bandung :  Sinar  Baru.

Slametmuljana.  1962.  Tata Makna (Semantik). Jakarta: Gramedia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s