GENDER DAN PEKERJAAN

Standar

FEMINISME MARXIS DAN CHARLOTTE PERKINS GILMAN 

Bab ini diawali dengan survei terhadap para teoris feminis Marxis, yang difokuskan pada karya-karya novel Emma Goldman: The Traffic in Women (1970), Michele Barrett: Women’s Oppression Today (1980) dan Lillian Robinson: Sex, Class and Culture (1978). Konsep teoretis dasar yang diuraikan di sini antara lain: kapitalisme versus patriarki, berkaitan dengan hubungan antara penindasan kelas dan gender; ekonomi publikasi; pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin; dan analisis feminis Marxis sebagai identifikasi terhadap aspek-aspek struktural yang menentukan kualitas dan sifat pengalaman kita. Pada bagian selanjutnya setelah survei teoretis ini, pembahasan kita akan beralih ke analisis feminis Marxis di dalam novel Charlotte Perkins Gilman yang berjudul ‘The Yellow Wallpaper’ dan beberapa cerita pendeknya.

Tinjauan mengenai Teori Feminis Marxis

Ringkasan Prinsip-prinsip Feminis Marxis

Feminisme Marxis diatur di seputar konflik-konflik pokok antara kapitalisme dan patriarki serta kelas versus penindasan gender. Feminisme Marxis menggabungkan studi tentang kelas dengan analisis mengenai gender. Kapitalisme dipandang sebagai eksploitasi secara seksual dan ekonomi; patriarki kapitalis dipandang sebagai sumber penindasan wanita: pengucilannya dari dunia kerja (lewat pembentukkan sekelompok tenaga kerja yang ada), kepemilikan patriarkal atas alat-alat produksi dan reproduksi, konstruksi kaum wanita sebagai kelas konsumen pasif, dan eksploitasi atas pekerjaan wanita. Yang disebutkan terakhir ini merupakan perspektif umum yang menyatukan semua wanita dan memungkinkan mereka mengenali cara-cara dimana kapitalisme mengharuskan bahwa pria mendominasi wanita, lewat suatu analisis politis terhadap ideologi patriarki. Jadi, gender adalah penyebab yang lebih mendasar dan pokok terjadinya penindasan ketimbang kelas, dan penindasan gender membentuk seluruh hubungan sosial kita. ‘Walaupun masyarakat kelas tampaknya merupakan sumber, penyebab penindasan terhadap wanita, justru sebenarnya dia hanyalah akibat’, kata Nancy Hartsock, dalam ulasannya tentang Marx. Lebih lanjut dia mengatakan, ‘Jadi, “hanya pada titik kulminasi terakhir dari perkembangan masyarakat kelas-lah [bahwa] hal ini, rahasianya, muncul kembali, yakni, bahwa di satu sisi ini adalah produk dari penindasan wanita, dan bahwa di sisi lain ini adalah alat melalui mana kaum wanita berpartisipasi di dalamnya dan menciptakan penindasan atas dirinya sendiri’ (penekanan dan elipsis Hartsock, 1983, (hal. 86). Identitas personal dan budaya dipandang sebagai produk-produk ideologi. Salah satu kontradiksi kapitalisme yang terungkap melalui suatu analisis feminis adalah bahwa kapitalisme menyepelekan apa yang sangat dibutuhkannya—tenaga kerja wanita. Kaum feminis Marxis mendapati dirinya berbeda pandangan dengan kaum feminis sosialis mengenai pertanyaan-pertanyaan: apakah kelas dan jenis kelamin mempertegas pemisahan pokok antara pria dan wanita? Kaum feminis Marxis mensubstitusi seks untuk peran yang dijalankan oleh kelas dalam analisis-analisis Marxis klasik dan menaruh perhatian pada kondisi-kondisi pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin.

Kondisi-kondisi material dalam rumah tangga menggambarkan berbagai macam pertentangan gender, seperti pemisahan yang dianalisis oleh Marx sebagai efek samping dari pertarungan kelas: di antara pertentangan-pertentangan ini juga termasuk pertentangan-pertentangan yang terbentuk antara tubuh dan pikiran, alam dan budaya, riil dan ideal. Dominasi pihak maskulin atas tiap dikotomi dan akibatnya devaluasi atas kaum wanita adalah ciri khas patriarki. Ketika hubungan-hubungan politis dalam lingkungan rumah tangga dipandang seperti dalam sebuah mikrokosmos, menjadi jelas bahwa hubungan-hubungan serupa dalam ranah publik menghasilkan devaluasi sistematis atas ‘pekerjaan wanita’ yang membentuk relasi-relasi sosial dan kehidupan politik publik.

Dalam konteks teorisasi sastra, kaum feminis Marxis fokus pada hubungan antara membaca dan realitas sosial. Seni, termasuk literatur, dianggap ditentukan oleh sistem-sistem  produksi ekonomi. Kondisi-kondisi yang memengaruhi penyusunan buku-buku sastra ditentukan oleh ekonomi publikasi dan distribusi, pemasaran dan profit. Kaum feminis Marxis mempertanyakan pengaruh gender pada cara dimana dunia kepenulisan diterima dan peraturan-peraturan dibentuk. Makna-makna tekstual diasumsikan diproduksi oleh konteks sosial-ekonomi mereka dan ideologi pembaca ketimbang berada dalam bidang apolitik transenden tertentu. Analisis Marxis berkutat pada identifikasi determinan-determinan pengalaman yang struktural. Ini melibatkan proses menelaah cara-cara dimana pengalaman pribadi ditentukan oleh kondisi-kondisi politik publik, dan, dengan demikian, bagaimana pengalaman-pengalaman publik dibentuk oleh hubungan-hubungan personal. Tiga pemikir feminis Marxis terkemuka adalah Emma Goldman, Lillian Robinson dan Michele Barrett; dan pada bagian-bagian selanjutnya kita akan memusatkan perhatian pada karya ketiga wanita ini.

 

Emma Goldman, The Traffic in Women dan Esei-esei lainnya (1970)

Buku ini menyadur kembali sebagian esei Emma Goldman tentang prostitusi, perkawinan dan hak pilih wanita, yang ditulisnya terlepas dari anarkisme yang diilhami Marx, pada awal abad ini. Saya ingin memfokuskan perhatian di sini pada esei judul dari kumpulan karya ini dimana Goldman menyajikan suatu analisis awal tentang subordinasi kaum wanita sebagai sebuah kelas lewat perpaduan hubungan kelas dan jenis kelamin. Emma Goldman membuka esei ini dengan membentuk suatu hubungan antara prostitusi seks dan prostitusi ekonomi–perbudakan upah versus perbudakan seks; keduanya merupakan bagian dari apa yang disebut Goldman ‘lalulintas perbudakan kulit putih’ (Goldman, 1970, hal. 19). Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa sesungguhnya subordinasi terhadap wanita dari segi ekonomi merupakan penyebab dan akar dari prostitusi: ‘Moloch kapitalisme yang tidak kenal ampun telah meningkatkan jumlah tenaga kerja yang tidak dibayar, sehingga mendorong ribuan wanita dan gadis remaja terjerumus ke dalam prostitusi’ (hal., 20). Untuk apa bekerja lama, waktu yang terbuang percuma hanya untuk bayaran yang sangat rendah, tanyanya, ketika prostitusi mampu menawarkan peluang yang lebih menarik? Goldman menyebut beberapa contoh para wanita yang bekerja di pabrik-pabrik di New York City dengan upah enam dolar seminggu sebagai bayaran untuk kerja selama 48 sampai 60 jam. Dari kondisi ekonomi wanita pekerja yang spesifik ini, Goldman beralih ke uraian tentang determinan-determinan sosial terkait yang memengaruhi perilaku wanita sebagai suatu kelas yang berbeda.

Tidak dimanapun juga wanita diperlakukan sesuai dengan manfaat pekerjaannya, tetapi lebih karena terdapat unsur kesenangan seks. Karena itu, hampir tidak bisa dihindari bahwa dia harus membayar bagi haknya agar tetap eksis, untuk mempertahankan posisi di lini apapun, dengan kesenangan seks. Jadi ini semata-mata adalah sebuah pertanyaan mengenai tingkatan apakah dia menjual diri kepada satu pria, dalam atau di luar perkawinan, atau kepada banyak pria. Apakah para reformis kita mengakuinya atau tidak, rendahnya kedudukan wanita di bidang ekonomi dan sosial bertanggung jawab terhadap prostitusi (hal. 20).

Untuk menekankan bahwa karena faktor ketergantungan ekonomi-lah dan bukan karena kondisi, moral, personal, dan sosial, yang menyebabkan para wanita tertentu, sebagai suatu kelas seksual, beralih ke prostitusi, atau semacamnya, Goldman menunjuk ke alasan-alasan berbeda mengapa para wanita menjadi WTS: kebutuhan finansial, melarikan diri dari rumah, ketidakmampuan fisik yang membuat mereka tidak bisa masuk ke jenis-jenis pekerjaan tertentu. Goldman juga sangat hati-hati untuk mengemukakan bahwa para wanita menikah membentuk proporsi yang cukup besar dalam komunitas prostitusi, sehingga tidak diperlukan lagi penjelasan moral tentang mengapa prostitusi terjadi. Menurut Goldman, alasan terjadinya prostitusi didasarkan pada hubungan antara kelas ekonomi dan status wanita sebagai komoditas seks. Jadi wanita kelas pekerja menjadi pelacur sementara wanita borjuis menjadi pelacur de facto dalam perkawinan. Menurut pendapat kaum moralis prostitusi tidak selalu terletak dalam fakta bahwa wanita menjual tubuhnya tetapi justru dia menjualnya di luar perkawinan. Bahwa tidak di mana pun juga pernyataan dibuktikan oleh fakta bahwa perkawinan karena pertimbangan-pertimbangan finansial sangat legitimate, diperkuat oleh hukum dan opini publik, sementara bentuk kesatuan (union) lainnya dikutuk dan ditolak(p. 25). Hubungan seksual ditentukan oleh relasi kelas; status individu wanita tergantung pada kedudukan kelasnya, tetapi status ekonomi wanita sebagai sebuah kelas seksual merupakan kondisi ketergantungan bersama. Bahkan, Goldman menunjukkan bahwa prostitusi bayaran menawarkan beberapa keuntungan dibanding hubungan seksual dan kerja rumah tangga setelah menikah yang tidak dibayar: karena WTS tidak pernah melepaskan haknya atas dirinya sendiri, dia tetap memiliki kebebasan dan hak-hak pribadi, juga dia tidak pernah dipaksa untuk menyerahkan diri ke pelukan pria lain’ (pp. 26-27). Tetapi, istri mendapati dirinya dalam suatu kondisi yang mirip dengan perbudakan dimana dia terikat sepenuhnya pada pria yang dinikahinya. Jadi, status komoditas wanita di bawah sistem kapitalisme dan status ketergantungan wanita di bawah sistem patriarki menciptakan sejumlah hubungan sosial yang mengubah semua relasi seksual ke dalam bentuk prostitusi.

Goldman bisa meramalkan transformasi relasi-relasi ini kecuali jika prostitusi diakui sebagai sebuah produk dari kondisi-kondisi sosial (sebagai suatu isu sosial ketimbang isu moral), dan hanya ketika kita mencapai ‘suatu transvaluasi sempurna pada semua nilai yang diakui… disertai dengan penghapusan perbudakaan di bidang industri’ (hal. 32). Hanya transformasi semua hubungan eksploitatif yang bisa menghapus kelas seksual terhadap mana kaum wanita telah diposisikan, yang disertai dengan komodifikasi pekerjaan seksual yang diwakili oleh prostitusi. Analisis Emma Goldman mengenai prostitusi merupakan indikasi dari pandangan feminis Marxis-nya, di mana eseinya mengaitkan antara penindasan kelas dan penindasan gender, dalam konteks pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin di bawah sistem patriarki kapitalis, dalam kaitan dengan aktivisme revolusioner Goldman sendiri.

Michele Barrett, Penindasan Wanita Dewasa Ini: Masalah-masalah dalam Analisis Feminis Marxis (1980)

Fokus perhatian Barrett dalam buku ini adalah  untuk menyatukan analisis tentang hubungan-hubungan gender dengan analisis materialis tentang masyarakat kapitalis kontemporer. Dia memulai dengan mengakui bahwa hanya ada sedikit kesamaan landasan berpikir yang dianut oleh teori Marxis dan feminisme: Marxisme berhubungan dengan relasi-relasi apropriasi dan eksploitasi, yang disebabkan oleh pertentangan mendasar antara modal dan tenaga kerja, dan bukan, seperti dikemukakan oleh Barrett, dengan gender para eksploiter dan gender dari orang-orang yang pekerjaannya diapropriasikan (Barrett, 1980, hal. 8). Dan selanjutnya Barrett mengakui bahwa pembagian-pembagian gender yang menimbulkan diskriminasi dan penindasan seksual mendahului transisi ke ekonomi-ekonomi kapitalis dan karena itu tidak bisa dihapuskan oleh transisi yang semakin menjauh dari kapitalisme dalam konteks suatu revolusi sosialis saja. Walaupun tidak peduli dengan masalah gender, ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh Marxisme dalam konteks gerakan feminis. Feminisme Marxis bisa ‘mengidentifikasi kerja hubungan-hubungan gender ketika dan bilamana mereka mungkin berbeda dari, atau berkaitan dengan, proses-proses produksi dan reproduksi yang dipahami oleh materialisme historis’ (hal. 9). Penting bahwa Barrett mengkhususkan pemakaian istilah ‘reproduksi’ dengan menempatkannya secara jelas dalam suatu konteks materialis historis, dengan mengambil konsep Louis Althusser mengenai reproduksi hubungan-hubungan produksi. Ini penting karena Barrett ingin membedakan pemakaian istilahnya tersebut dari pemakaian kaum feminis radikal yang mendefinisikan reproduksi sebagai pengalaman maternitas yang didasarkan pada perbedaan biologis antara pria dan wanita, dan yang bersumber pada penindasan atas wanita (lihat pembahasan mengenai The Dialectic of Sex Shulamith Firestone, pada bab lima). Barrett sangat kritis dengan argumen-argumen biologistis Firestone, terhadap reduksionismenya, terhadap penghilangan definisi-definisi seks sebagai suatu kategori biologis dan gender sebagai suatu kategori sosial, terhadap kemungkinan penegasan ulang atas lingkungan-lingkungan yang berbeda (publik versus pribadi) untuk pria dan wanita. Justru, Feminisme Marxis akan fokus pada ‘hubungan-hubungan antara organisasi seksualitas, produksi rumah tangga, rumah tangga, dan sebagainya, dan perubahan-perubahan historis dalam moda produksi serta sistem-sistem apropriasi dan eksploitasi’ (hal. 9).

Akibatnya, pendekatan Feminisme Marxis terhadap konsep patriarki didasarkan bukan pada landasan biologis dari hubungan-hubungan kekuasaan tetapi dalam hubungan dengan analisis kelas, guna memungkinkan pemahaman yang lebih tepat tentang penindasan wanita. Barrett menyebut contoh istri yang diceraikan oleh pria borjuis; wanita ini adalah anggota kelas borjuis hanya karena perkawinannya, akibatnya dia adalah anggota kehormatan kelas menengah. Namun di luar hubungan perkawinan, wanita ini harus mencari nafkahnya sendiri dan mengambil tempat dalam kelas pekerja tempat dia menjadi anggota seumur hidupnya. Ini adalah contoh perkawinan yang sangat bagus sebagai bentuk produksi rumah tangga, yang melibatkan apropriasi suami atas kerja gratis istrinya, tetapi ini tidak mengindikasikan bagaimana konsep patriarki berkaitan dengan moda produksi khusus ini. Malahan, patriarki direpresentasikan sebagai prinsip penindasan yang ahistoris dan universal. Kendala untuk menetapkan patriarki sebagai suatu sistem dominasi pria dalam kaitan dengan mode produksi kapitalis dalam beberapa hal semakin menambah kesulitan untuk merumuskan analisis feminis Marxis yang tepat. Kesulitan ini makin terasa ketika mempertimbangkan hubungan-hubungan reproduksi sebagai hubungan-hubungan patriarkal yang bisa dikatakan tercipta terlepas dari hubungan-hubungan produksi kapitalis. Kerja rumah tangga yang tidak diupah, contoh, berada di luar parameter-parameter analisis eksploitasi Marx di bawah kapitalisme, yang berlaku pada kontrak upah eksploitatif dan yang tentu tidak berlaku pada situasi istri yang tidak diupah. Tetapi, pekerjaan istri mungkin berguna untuk memproduksi pekerjaan buruh sama seperti ketika dia mereproduksi hubungan-hubungan ideologis kapitalis dalam hal dominasi dan submisi dalam konteks keluarga. Dengan cara ini, pekerja rumah tangga yang tidak diupah dan pekerja yang diupah rendah memiliki kepentingan kelas yang sama. Dalam hal ini, analisisnya adalah reduksionis dan dengan demikian, analisis tersebut tidak mempertimbangkan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dalam masyarakat pra-kapitalis dan sosialis. Barrett menyimpulkan bahwa dalam kenyataannya penindasan terhadap wanita tidak selalu merupakan kerja kapitalisme tetapi bentuk penindasan ini ‘telah memperoleh landasan material dalam hubungan-hubungan produksi dan reproduksi kapitalisme dewasa ini’ (hal. 249).

Kesulitan untuk menjelaskan reproduksi sosial dari hubungan-hubungan kelas kapitalis dalam kaitan dengan reproduksi patriarkal kelas-kelas tersebut sebagian bergantung pada arti penting atau keistimewaan yang melekat pada kelas atau pada gender. Konflik yang sama ini antara klaim kelas dan klaim gender sebagai sumber penyebab penindasan muncul dalam debat-debat mengenai posisi wanita dalam struktur kelas. Klaim feminis radikal bahwa wanita merupakan suatu ‘kelas seks’ patriarkal yang terlepas dari atau yang terperangkap dalam sistem kelas kapitalis. Jadi wanita mengalami penindasan sebagai wanita dalam cara-cara yang lebih langsung dan lebih kuat dibanding penindasan yang mereka alami karena afiliasi kelas ekonominya. Pengalaman penindasan karena gender dalam suatu konteks kelas bisa didekati dalam kaitan dengan revisi Louis Althusser atas konsep ideologi sebagai pengalaman hidup, ‘hubungan imajinatif individu-individu dengan kondisi eksistensi riil mereka’ (Althusser, 1971). Barrett mengemukakan bahwa, meskipun konsep ini berguna untuk mempertahankan suatu hubungan dengan kondisi material kehidupan, ideologi saja tidak cukup untuk  menjelaskan penindasan wanita di bawah sistem kapitalisme; proses-proses ekonomi dan juga determinan-determinan ideologis turut menentukan sifat spesifik dari penindasan yang dialami kaum wanita. Sangatlah penting, seperti  dijelaskan oleh Barrett, untuk mendefinisikan secara cermat konsep ideologi; pertama, dia membatasi ide mengenai otonomi ideologi yang relatif: kita harus bisa menetapkan sejauh mana terdapat kemungkinan-kemungkinan bagi proses-proses ideologis terhadap suatu bentuk sosial tertentu: dan kemudian dia selanjutnya membatasi konsep untuk mendeskripsikan fenomena mental ketimbang fenomena material:

Konsep ideologi menunjuk ke proses-proses yang berhubungan dengan alam sadar, motif, emosionalitas; ideologi sebaiknya dimasukkan dalam kategori makna (meaning). Ideologi adalah istilah umum untuk proses-proses dimana lewat proses-proses ini makna diproduksi, ditentang, direproduksi, ditransformasikan. Karena makna disepakati terutama lewat cara-cara komunikasi dan signifikasi, maka bisa dikatakan bahwa produksi budaya menyediakan tempat yang penting bagi pembentukan proses-proses ideologi (hal. 97).

Dengan cara ini, studi literatur dan sastra sebagai bentuk material dari praktik budaya, terbuka bagi analisis ideologi Marxis dalam bentuk-bentuk sosial tertentu. Jadi, analisis ideologi dalam konteks historis dan material akan memudahkan identifikasi terhadap mekanisme-mekanisme yang beroperasi untuk menindas wanita, seperti mitologi keluarga yang ideal, konstruksi ideologis dari subyektivitas gender, dan sebagainya.

Lillian S. Robinson: Seks, Kelas dan Budaya (1978)

Diilhami oleh aliran politik New Left pada dasawarsa 1970-an, Lillian Robinson menyediakan analisis materialis historis ini tentang karya-karya sastra kanonik. Esei yang menjadi awal dari beberapa karyanya, ‘Dwelling in Decencies: Radical Criticism and the Feminist Perspective‘ (1971), menyoroti kesulitan dalam membangun suatu hubungan yang efektif antara feminisme dan bentuk-bentuk turunan dari kritik sastra: `kritikan feminis tidak bisa serta merta menjadi kritik borjuis [kata Robinson]. Kritikan tersebut haruslah ideologis dan moral; dia harus revolusioner’ (Robinson, 1978, hal. 3). Efektivitas kritikan feminis tidak boleh diukur berdasarkan kontribusi yang bisa diberikan kepada kritikan sastra akademis tetapi diukur oleh apa sumbangsih dari upaya analisis ideologis feminis ini bagi kemajuan kaum wanita. Dalam pendapatnya tentang apa yang bisa dilakukan oleh analisis ideologis ini, di bidang sastra Robinson cenderung menggunakan konsep ideologi yang ditetapkan oleh Michele Barrett. Robinson berpendapat:

Banyak buku tentang wanita berkonsentrasi pada ‘pilihan-pilihan’ moral dan sosial yang mereka buat; para penulisnya hampir selalu menunjukkan kepada kita betapa sedikitnya cakupan material yang sungguh-sungguh mereka miliki untuk membuat pilihan-pilihan. Ini jelas lebih dari sekadar mengatakan kepada kita seberapa banyak uang yang dipunyai atau yang bisa diperoleh seseorang—walaupun para penulis, ketika berbicara tentang wanita, sangat eksplisit mengenai fakta-fakta ini. Ini adalah masalah mengaitkan pengalaman kelas di bidang ekonomi dan budaya dengan makna yang diberikan seseorang tentang dirinya dan dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Itu juga berarti memahami sejauh mana identitas seksual itu sendiri merupakan suatu fakta material (hal. 9-10).

Di sini Robinson tidak menunjuk secara khusus ke buku-buku  yang ditulis oleh dan tentang wanita; representasi wanita dalam karya sastra pria yang mencakup tradisi besar juga bisa mengungkapkan banyak hal tentang mekanisme penindasan atas wanita. Namun ini hanya bisa terjadi jika kritikus-kritikus sastra feminis melepaskan asumsi-asumsi yang telah mereka ketahui tentang obyektivitas dan ketidaktertarikan serta nilai tekstual. Sebuah buku tidak mungkin seksi dan tetap ‘besar’ sebagai karya sastra di tangan feminis. Evaluasi atas sebuah buku dalam konteks feminis mengharuskan bahwa kritikus harus melewati batas-batas bentuk tekstual untuk mencaritahu apa hubungan antara bentuk dengan makna moral atau ideologis. Baik aspek estetis maupun aspek ideologis dari sebuah buku harus tetap dipertahankan jika feminisme hendak difungsikan sebagai suatu bentuk kritikan yang saling ‘bertautan’; yakni, sebuah kritikan dengan suatu alasan politis.

Apa yang Robinson inginkan agar tetap dimiliki oleh mereka yang tugasnya ‘melakukan’ kritik terhadap feminis adalah melakukan suatu penyelidikan gender sebagai bagian dari keilmuan yang tradisional dan borjuis. Dalam esei tahun 1974 ‘Criticism and Self-Criticism‘ dia menyebutkan jenis kritikan sastra feminis yang gagal mempertahankan pendekatan ini dalam prosesnya ‘seolah-olah gender berfungsi sebagai suatu kategori alamiah ketimbang kategori sosial’ (Robinson, 1978, hal. 65). Dengan kegagalan untuk keluar dari pengakuan bahwa seksisme adalah sebuah batasan sosial, analisis feminis terbatas semacam ini tidak mampu mengidentifikasi bentuk-bentuk yang digunakan oleh batasan ini dalam masyarakat tertentu. Dengan demikian kritikan ini gagal untuk berkontribusi bagi penyebab kebebasan wanita; dia tidak membantu kita menggunakan literatur untuk memahami suatu masalah penting bahwa literatur sangat cocok untuk menerangkan—bentuk-bentuk khusus yang disandang oleh seksisme dalam masyarakat kapitalis‘ (penekanan Robinson, hal. 65). Apa yang seharusnya dianalisis oleh kritikan feminis adalah sejarah sosial yang memotivasi makna karya-karya seni, baik karya-karya seni yang dihasilkan dewasa ini maupun di masa lampau. Robinson membuat suatu pembedaan berkaitan dengan isu-isu yang harus ditangani oleh karya-karya sastra kontemporer dan bukan oleh karya-karya sastra historis:

Untuk jaman sekarang, itu berarti memperhatikan kultur massa secara serius—menyelidiki seni yang diperuntukkan bagi masyarakat pekerja, bentuk yang digunakannya, mitos yang diciptakannya, pengaruh yang ditimbulkannya, dan mencari audiens baru bagi kritikan di antara orang-orang yang merupakan pelaku utama dalam sejarah. Untuk masa lalu, itu berarti memperhatikan karya-karya adiluhung terkenal sepanjang sejarah: yang dikondisikan oleh kekuatan-kekuatan historis, yang dibuat dalam situasi-situasi material khusus, yang melayani kepentingan-kepentingan tertentu dan yang mengabaikan, mengancam atau menindas karya-karya yang lain. Dan itu berarti mempertimbangkan bagaimana budaya populer biasa ada bersama dan kadang-kadang saling tumpang tindih dengan karya-karya tersebut (hal. 67).

Dalam esei-esei yang yang ditulis dalam buku Sex, Class, and Culture, Robinson melakukan secara persis apa yang digambarkan di sini. Esei-esei seperti ‘Who’s Afraid of a Room of One’s Own?’ tentang Virginia Woolf, ‘Woman Under Capitalism: The Renaissance Lady‘ tentang pemujaan terhadap cinta yang tulus, ‘Why Marry Mr. Collins?’ tentang Jane Austen, saling tumpang tindih dengan esei-esei seperti ‘On Reading Trash’, tentang ‘tumpang tindih’ antara romansa populer dan romansa sastra, ‘Working/Women/Writing‘ yakni tentang tulisan wanita kelas pekerja, dan ‘What’s My Line? Telefiction and Women’s Work‘. Bentuk-bentuk sastra, mitos, pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh buku-buku ini, dan para audiens potensial yang akan dijangkaunya seluruhnya ditentukan berdasarkan gender; kekuatan-kekuatan historis yang mengkondisikan buku-buku tersebut, situasi-situasi material tertentu yang telah menghasilkan buku-buku itu, dan kepentingan-kepentingan historis yang memiliki keterkaitan dengan buku-buku bersangkutan, seluruhnya dibahas dalam analisis-analisis Robinson kecuali yang menyangkut aspek-aspek gender. Fokus dari analisis-analisis feminis Marxis-nya tidak sepenuhnya patriarki ataupun kapitalisme, tetapi justru hubungan antara antara penindasan kelas dan penindasan gender serta aspek-aspek struktural yang menentukan kualitas dan sifat dari pengalaman kita sebagai makhluk yang ber-gender. Contoh, dalam ‘Who’s Afraid of a Room of One’s Own?‘ Robinson menguraikan cara-cara dimana kesucian dan perilaku seks dikaitkan dengan kelas sosial-ekonomi, baik secara historis dalam tulisan Virginia maupun dalam pengalaman kontemporernya sendiri di Amerika. Hubungan antara kelas dan seksualitas tampaknya hanya mengaburkan pengalaman umum kaum wanita dalam masyarakat—ketersediaan seks dan kapasitas untuk memberikan kenikmatan seks mencirikan wanita kelas pekerja yang juga sering diidentikkan dengan prostitusi, sementara para wanita borjuis atau kelas atas yang ceroboh dalam hal seksual (Robinson menggunakan contoh Lily Bart dalam karya Edith Wharton dan para pahlawan wanita almarhum Henry James) bergantung secara finansial pada para pria sama seperti para WTS kelas pekerja, dan kecerobohan seksual dari para “nyonya” ini juga bisa dilacak ke kebutuhan finansial.

Pria-lah yang mengabsahkan antara wanita ‘terhormat’ dan para WTS, namun ketergantungan wanita sebagai masyarakat kelas bawah-lah yang menentukan perilaku-perilaku seksual wanita (kesucian maupun berhubungan seks dengan siapa saja). Istilah `respektabilitas’ membawa serta suatu identifikasi kelas—wanita terhormat karena hubungan perkawinan atau keturunan bisa bergabung dengan kelas menengah suami atau ayahnya—dan dengan demikian hirarki relasi-relasi kelas membentuk pengalaman gender karena dia menentukan pengalaman seksualitas. Para wanita tidak memperoleh kekuasaan lewat identifikasi ini tetapi mereka memperoleh kedekatan dengan dan keuntungan-keuntungan material dari kedekatan mereka dengan orang-orang yang menguasai alat-alat produksi. Robinson mencatat, ‘Dalam pengertian inilah bahwa bentuk-bentuk perilaku seks menciptakan hambatan-hambatan yang setidaknya dipahami sebagai berbasis kelas’ (hal. 108).

 

Feminisme Marxis dalam Praksis

Pada bagian berikut, novel Charlotte Perkins Gilman ‘The Yellow Wallpaper’ dan beberapa cerita pendeknya akan dianalisis dalam konteks feminis Marxis. Diskusi mengenai novel Charlotte Perkins Gilman dibuat dalam konteks feminisme Gilman. Hubungan gender dan materialisme dalam representasi Gilman menyangkut kondisi kehidupan para wanita abad sembilan belas menciptakan kondisi-kondisi bagi  analisis feminis Marxis atas novelnya dan tema-tema yang dibahasnya di sana: kapitalisme dan patriarki, atau hubungan antara ketergantungan ekonomi dan identitas seksual wanita; analisis politik dalam kaitan dengan determinan-determinan pengalaman struktural serta kehancuran individualitas wanita; dan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin yang, dalam ‘The Yellow Wallpaper’, dibahas oleh Gilman dalam kaitan dengan tulisan dan komunikasi. Gaya penyusunan buku ini dibicarakan dalam kaitan dengan kondisi-kondisi produksi dan konsumsinya: pada saat publikasi awalnya, buku ini tidak populer karena gaya Gothic dimana buku ini ditulis mengungkapkan sensibilitas feminin yang bertentangan dengan gaya realistis dominan yang terkenal di kalangan para sahabat Gilman (terutama penilai gaya sastra abad sembilan belas, William Dean Howells).

Charlotte Perkins Gilman, ‘The Yellow Wallpaper’ dan Kisah-kisahnya

Peranan gender membentuk fokus kritikan sosial Gilman. Suatu pendekatan feminis Marxis terhadap tulisan Gilman bisa meningkatkan apresiasi kita terhadap pemaparan Gilman tentang konstruksi ideologis diri dalam sistem patriarki dan kondisi itu penting (paksaan sosial) yang membuat wanita nyaman dengan peranan-peranan gender yang opresif. Dia melakukan ini dalam karya sastranya dalam tiga cara pokok: pertama, dia menunjukkan bagaimana struktur-struktur sosial berusaha untuk mereduksi potensi wanita (dalam buku-buku seperti ‘The Yellow Wallpaper’, `The Cottagette’, dan ‘Making a Change’); kedua, dia menunjukkan bahwa wanita bisa berprestasi apabila mereka dibebaskan dari bentuk-bentuk sosial ini (seperti dalam ‘Turned’, ‘What Diantha Did’, dan ‘An Honest Woman’); ketiga, dia merepresentasikan dunia dalam bentuk utopia, karena dunia seharusnya lebih dari sekadar apa adanya, dengan wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama serta martabat yang lahir dari kesadaran akan potensi kemanusiaan mereka sepenuhnya, walaupun strategi yang terakhir ini hanya tersedia bagi Gilman sebagai pembalikkan dari peranan-peranan gender, dalam buku-buku Herland, With Her in Outland, dan ‘Moving the Mountain’, dimana wanita direpresentasikan sebagai dominan dan pria sebagai marginal. Perlu berhenti sejenak untuk memperhatikan secara cermat signifikansi dari representasi Gilman mengenai aspek-aspek penindasan wanita ini.

Kapitalisme tentu menyediakan konteks ekonomi bagi tulisan Gilman, seperti patriarki menyediakan konteks seksual. Kapitalisme direpresentasikan bukan sebagai penyebab dari penindasan atas wanita tetapi sebagai konsekuensi dari sistem patriarki. Terutama dalam hubungan dengan aspek ekonomi dari pekerjaan rumah  tangga, Gilman mengungkapkan utang finansial yang sangat besar yang ditanggung oleh wanita untuk pekerjaan mereka dalam rumah tangga yang tidak dibayar. Eksistensi suatu kelompok pekerja wanita yang murah (atau gratis) adalah bagian penting dari ekonomi kapitalis. Hal ini ditunjukkan dengan sangat jelas oleh tokoh-tokoh wanita dalam ‘What Diantha Did’ (1912), yang menghadiahi ayahnya dengan sebuah rekening yang berisi total biaya yang diperlukan untuk membesarkan dirinya. Hadiah ini diterimanya dengan wajah keheranan sebagai jawaban Diantha terhadap perkataannya bahwa dia berutang kepadanya tugas merawatnya sebagai puterinya. Apa yang tidak membuatnya heran sama sekali adalah rekening utangnya kepada sang puteri sebagai upah untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang dikerjakannya– pekerjaan rumah tangga dan tugasnya merawat ibu serta adik-adiknya. ‘Mr. Bell merenung dengan seksama angka-angka ini. Memikirkan kerja anak tersebut yang mencapai hingga dua ribu dolar lebih! Beruntunglah seorang pria memiliki istri dan anak-anak gadis yang melakukan pekerjaan ini, atau dia tidak bisa pernah menghidupi sebuah keluarga (Gilman, dalam  Lane, ed., 1980, hal. 133). Setting ironis bagi kesadaran ini adalah pekerjaan rumah tangga yang dilakukan istrinya, yang sangat terpukul dengan perjumpaan ini antara puterinya dan suaminya, dan yang dilakukan oleh Diantha sendiri, yang harus memasak makan malam untuk ayahnya.

Motivasi bagi hitung-hitungan ini adalah pembenaran Diantha atas keputusannya meninggalkan rumah agar bisa bekerja. Orang tua dan adiknya semuanya menolak dengan alasan bahwa satu-satunya pekerjaan terhormat bagi seorang wanita adalah di rumah; adiknya bisa pergi agar bisa menikah dan kakaknya bisa pergi agar bisa bekerja tetapi Diantha, seorang wanita, tidak bisa pergi untuk mencari pekerjaan upahan di luar rumah tanpa mendapat persetujuan dari semua orang dekatnya. Dalam konteks finansial, keluarganya akan kehilangan pekerjaan tanpa upahnya di rumah dan Diantha harus berusaha untuk membayar agar pekerjaan di rumah bisa menggantikan kedudukannya. Dalam dunia publik dimana pekerjaan diupah Diantha menemukan pembagian yang serupa antara pekerjaan pria dan pekerjaan wanita. Dia berhasil sebagai pengusaha wanita tidak dengan cara menentang pembagian pekerjaan menurut jenis kelamin tetapi dengan bekerja sama dengannya. Dia mengelola urusan pekerjaan rumah tangga secara profesional, contoh, dengan mengatur jasa kebersihan dan pengiriman makanan-makanan yang telah dimasak. Tetapi keberhasilannya sebagai seorang wanita melanggengkan pembagian kelas seksual yang memisahkan pria dan wanita. Dalam fiksi Gilman pola ini terulang kembali. Wanita berhasil dalam bisnis tetapi bisnis dimana mereka terlibat di dalamnya merupakan kelanjutan ke dunia publik pekerjaan rumah tangga yang dilakukan oleh wanita, tanpa dibayar, di rumahnya sendiri: memasak, mencuci, mengasuh anak, dan sebagainya. Jadi, dalam buku Gilman pembagian-pembagian kelas seksual dalam masyarakat kapitalis dipandang sebagai konsekuensi dan bukan penyebab lahirnya sistem patriarki. Keduanya saling bekerja sama tetapi kebebasan tokoh-tokoh seperti Diantha terjadi dalam suatu ekonomi kapitalis. Gilman menunjukkan bahwa patriarki mendahului kapitalisme, yang merupakan akibatnya dan bukan penyebabnya. Suatu analisis Marxis terhadap buku-buku seperti ‘What Diantha Did’ tidak akan masuk melampaui konteks ekonomi tetapi sebuah analisis feminis Marxis mampu mengungkapkan hubungan antara kapitalisme dan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dalam sistem patriarki.

Cerita-cerita seperti ‘What Diantha Did’ dan ‘An Honest Woman’ (1911) mengeksplorasi implikasi-implikasi dari pembagian kerja menurut jenis kelamin. Eksploitasi atas pekerjaan wanita dalam sistem patriarki dan pentingnya pekerjaan wanita sebagai komponen struktural dari ekonomi kapitalis keduanya menjadi jelas ketika Gilman mengungkapkan apa yang bisa diraih wanita ketika mereka dibebaskan dari sistem-sistem ekonomi dan sosial yang represif. Tokoh-tokoh wanita dalam ‘An Honest Woman’ mentransformasi dirinya dari seorang ‘wanita yang merayap’, yang ditelantarkan oleh ayahnya di waktu kecil, menjadi seorang wanita pengusaha sukses yang mengelola sebuah hotel terkenal dan menjadi pilar komunitas lokal. Ketika pria penggodanya akhirnya kembali dan berharap sama-sama menikmati kesuksesan finansialnya dia bisa menolaknya mengingat semua kebohongan dan tipu daya yang telah dilakukannya. Ketika pria itu mengancam akan membongkar masa lalunya kepada masyarakat, dia bisa menanggapi ancaman itu dengan memberitahunya bahwa semua detail di masa lalunya pun telah diketahui oleh semua penduduk namun dia tetap dinilai sebagai ‘wanita jujur’ karena keteladanannya, dan dengan demikian ancamannya menjadi sia-sia. Mary menolak tuntutan patriarkal supaya dia menyediakan dirinya bagi pria ini; dia mencoba untuk mendapatkan anaknya, namanya, dan dirinya sebagai isterinya tetapi Mary tidak membutuhkan dirinya dalam semua hal ini karena dirinya dan anaknya tidak bergantung secara finansial pada dirinya. Tetapi, independensi ini bergantung pada kecocokan dirinya dengan harapan-harapan mengenai apa itu masyarakat patriarkal. Dia dipuji karena mengirim adiknya untuk bersekolah dan bukannya menjalani kehidupan di hotel, yang mungkin tidak diterima oleh masyarakat; pekerjaannya sendiri adalah kelanjutan dari pekerjaan rumah tangga tradisional wanita dan bukan saingan bagi kategori pekerjaan ‘pria’. Keberhasilan yang diraihnya adalah keberhasilan seorang pengusaha dan kebebasannya merepresentasikan kesuksesan yang mampu diraih seorang wanita jika dia bebas menentukan nasibnya sendiri dalam ekonomi kapitalis.

Cerita-cerita yang disajikan oleh Gilman menyingkap determinan-determinan struktural atau kelas yang tersembunyi dari pengalaman wanita, terutama kekuatan-kekuatan sosial dan ekonomi yang membatasi para wanita hanya pada kelas seksual saja: dalam cerita ‘Turned’, contoh, istri yang dikhianati, Marion, menyadari bahwa perselingkuhan suaminya dengan wanita pelayan muda Gerda bukan hanya sebuah pengkianatan personal. Setelah goncangan dan kesedihannya mereda dia bisa merefleksi, ‘Ini adalah dosa pria terhadap wanita…. Kejahatan melawan kodrat wanita. Terhadap kodrat seorang ibu’ (hal.94), ujarnya. Suaminya mengambil keuntungan dari sikap pasif, kepatuhan, dan hormat sang pembantu. Hubungan kelas antara tuan dengan hamba tercermin dalam hubungan seksual antara pria dengan wanita. Dilihat dalam konteks-konteks ini, Marion menyadari bahwa reaksi awal yang dilakukannya mengusir Gerda dari rumah dianggap keliru. Reaksi tersebut justru mendukung pembedaan kelas dan jenis kelamin yang telah memungkinkan suaminya memanfaatkan gadis tersebut. Malahan, Marion mengakui suaminya sebagai pelaku dan Gerda sebagi korban dalam situasi-situasi ini dan kedua wanita itu pergi meninggalkan rumah untuk membangun kehidupan yang bebas bagi keduanya dan anak Gerda. Jadi, judul cerita tersebut mewakili bukan hanya ‘berbaliknya’ kedua wanita itu melawan pria tidak setia itu tetapi juga menunjukkan cara dimana keduanya saling memperhatikan satu sama lain sebagai anggota kelas seksual yang sama, sama-sama mengalami eksploitasi dan pengkhianatan.

Gilman mengungkapkan konstruksi wanita sebagai kelas konsumen pasif dan kehancuran individualitas feminin yang merupakan bagian dari pembentukkan kesadaran kelas. Dengan menjelaskan makna femininitas dan membatasi kesadaran feminin lewat konsep-konsep seperti kewajiban, formula-formula sosial beroperasi untuk mengurangi potensi setiap wanita. Cerita-cerita seperti ‘The Cottagette’ (1910) dan ‘Making a Change’ (1911) mengungkapkan proses dimana melalui proses itu tiap wanita tereduksi oleh ketergantungannya pada pria agar cocok dengan peranan-peranan gender tertentu. ‘The Cottagette’, contoh, menggambarkan transformasi seorang artis menjadi seorang pekerja rumah tangga ketika dia menjalankan peranan-peranan rumah tangga yang diyakininya perlu untuk mendapatkan seorang suami. Dalam ‘Making a Change’ istri juga seorang seniman tetapi dalam cerita ini dia terdorong untuk mencoba bunuh diri karena tekanan-tekanan rumah tangga dan sebagai seorang ibu. Dalam cerita ini sang istri dan mertuanya, yang sama-sama menderita dalam peranan konvensionalnya, membuat sebuah rencana dimana Julia bisa memulai kembali mengajar musik sementara suaminya bekerja dan bayinya diasuh oleh neneknya bersama dengan semua bayi yang lain yang berada di bawah pengasuhannya. Dengan cara ini, kedua wanita itu memperoleh cukup uang untuk menggaji seorang tukang masak dan penjaga rumah sementara mereka, daripada hidup sebagai konsumen pasif dari pendapatan Frank, menjadi penyedia jasa aktif yang diupah. Sekali lagi, pekerjaan yang diupah ini adalah perluasan dari pekerjaan rumah tangga dan awalnya Frank malu dengan perilaku ‘tidak feminin’ ini: usaha pengasuhan anak ibunya harus dikesampingkan demi puteranya dan kemampuan bermusik isterinya seharusnya hanya dinikmati olehnya. Hanya karena dia sadar bahwa kebahagiaan dan pemenuhan diri yang dirasakan oleh masing-masing wanita yang didapat dari pekerjaan yang diupah yang membuatnya menyetujui kedua wanita itu bekerja. Resistensi maskulin terhadap pekerjaan feminin serta ketergantungan finansial adalah sebuah tema yang muncul kembali dalam cerita-cerita Gilman. Konsep-konsep seperti tugas dan rasa hormat bekerja sama dengan peranan-peranan gender patriarkal konvensional membatasi pria maupun wanita, tetapi pelecehan terhadap individualitas dirasakan oleh kaum wanita sangat merugikan mereka. Ini adalah pokok bahasan utama dalam novel Gilman yang sangat terkenal, ‘The Yellow Wallpaper’.

Dalam ‘The Yellow Wallpaper’, hubungan antara narator dan suaminya John mewakili stereotipe-stereotipe seksual yang bertentangan yang dimasukkan ke dalam konflik sepanjang cerita novel tersebut. Sang suami disebut sebagai rasional, ilmiah, obyektif dan dominan; sebaliknya, isterinya digambarkan pasif, tidak rasional, gugup, emosional dan subyektif, `percaya pada takhyul’. Tetapi lebih dari itu, justru kekuatan imajinasinya-lah yang disebut sebagai berbahaya. John terpaksa harus mengontrol isterinya dan bahwa hasrat-hasrat yang berbahaya mengancam pandangannya tentang dunia. Ketakutannya menyebabkannya menjadi otoriter, terutama ketika obyek ketakutannya adalah `the weaker sex’. Narator melihat masalahnya tetapi dia tidak bisa menyebut hal tersebut sebagai sebuah masalah. Akibatnya, nada suaranya tidak menentu; pandangan berubah dengan mudah, resistensi berubah menjadi penerimaan.

Cerita tersebut tampaknya adalah sebuah jurnal tetapi nada penyampaiannya yang meyakinkan menunjukkan bahwa narator sedang mencoba untuk menjangkau atau bahkan menciptakan seorang pembaca yang sebaliknya tidak bisa ditemukannya. Hubungannya dengan suaminya penuh dengan ketidakjujuran karena dia tidak bisa memberitahu sang suami apa yang ingin diketahui dan tidak mau diakui oleh suaminya (karena itu berulang kali dia menegaskan bahwa istrinya semakin membaik). Hanya dalam jurnalnya dia bisa mengakui ketidakjujurannya dan menjelaskan mengapa itu perlu. Dalam tulisan dia bisa menjelaskan apa yang ingin disampaikannya kepada suaminya tetapi tidak bisa dilakukannya. Jurnal itu sendiri adalah kebohongan terbesarnya tetapi juga mewakili upaya terbaiknya untuk bersikap jujur. Kontradiksi-kontradiksi ini dialami sebagai kegagalan pribadi tetapi disampaikan melalui narasi sebagai konsekuensi yang tidak terelakkan dari peranan-peranan gender yang dijelaskan; di sini, konsekuensi yang dialami istri. Tiap wanita ditempatkan dalam suatu situasi dimana mereka harus berusaha menyesuaikan diri dengan stereotipe ‘isteri’ yang artifisial dan dengan tulus mengambil peranan ini sebagai jalan pemenuhan diri. Tetapi proses ini tak terhindarkan menciptakan konflik antara persepsi sosial dan persepsi personal tentang diri seseorang, suatu konflik yang dialami sebagai tuntutan yang tidak terelakkan untuk bersikap tidak jujur terhadap diri dan, sekaligus, dorongan untuk bersikap jujur.

Narator tidak bisa berhenti menipu dirinya mengenai hakikat dari sikapnya. Jadi, deskripsi-deskripsinya menghasilkan ironi yang dramatis ketika pembaca berusaha membedah makna-makna yang sangat tidak dipahaminya. Contoh, deskripsinya tentang kamarnya yang menurutnya seperti sebuah kamar anak-anak tetapi menurut pembaca tampak seperti sebuah kamar yang dirancang untuk membatasi gerak para pasien yang kasar. Perbedaan antara hal-hal fisik dalam lingkungannya dengan interpretasinya atas hal-hal tersebut sebagian besar muncul dari keinginannya untuk mempercayai segala sesuatu yang dikatakan oleh suaminya kepada dirinya. Apa yang dia ungkapkan dalam cara ini adalah sejauh mana dia terjebak dalam konsepsi tentang dirinya yang didapat dari John dan nilai-nilai masyarakat patriarkal yang diwakili suaminya. Lewat nilai-nilai patriarkal inilah kaum wanita bisa dikendalikan dengan sangat efektif dan sementara narator mungkin keberatan dengan kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan situasi yang dihadapinya, dia tidak punya kata-kata yang bisa digunakan untuk menentang otoritas suaminya.

Bukan hanya narator tetapi juga suaminya ternyata adalah korban dari masyarakat represif tempat mereka hidup. Sikap kasarnya didorong oleh cinta; suaminya tidak mau menyiksanya tetapi tidak punya solusi lain bagi kesulitannya selain mengatakan bahwa isterinya menyukai peranan-peranan gender yang diberikan kepadanya. Tugas ‘mencintai suami’ dan ‘isteri yang setia’ justru menjerumuskan mereka yang mencoba menjalankan peranan-peranan ini ke dalam bahaya. Jenny juga berpandangan sama seperti John mengenai masalah yang dihadapi narator dan imajinasinya yang sangat berbahaya; dalam hal ini dia menggambarkan kepelikan yang dihadapi para wanita dalam mempertahankan peranan-peranan sosial yang opresif dengan mendramatisir tokoh wanita yang diidentikkan dengan pria. Jenny mengidentifikasikan diri bukan dengan kepentingan wanita tetapi dengan kepentingan-kepentingan khusus pria; dia berpihak dengan orang-orang yang sangat berkuasa, dengan para penindas, karena di situ dia bisa memperoleh keuntungan pribadi. Dalam cerita tersebut tidak ada petunjuk tentang suatu komunitas wanita selain visi gila narator tentang sekelompok ‘wanita yang tak berdaya’. Kedua wanita dalam cerita itu terkungkung oleh peranan sebagai isteri yang dibebankan oleh masyarakat kepada mereka, seperti wanita imajinatif yang terpenjara di balik kertas dinding yang berpola dan wanita nyata yang terpenjara di balik jendela berjerujinya. Pada akhirnya, dia terbebas dari kungkungan namun kebebasan yang diperolehnya hanyalah kebebasan dari kebutuhan untuk menipu dirinya sendiri dan orang lain mengenai hakikat dari peranannya. Dia telah menyingkirkan jebakan-jebakan peranan sebagai isteri dan ibu; dia dibiarkan begitu saja dengan kegilaannya dan pandangannya tentang pekerjaan sesungguhnya dalam sistem patriarki. Dia dihukum karena menolak untuk memikul dan menyesuaikan diri dengan peranan-peranan gender yang telah dikondisikan oleh masyarakat; dia menjadi contoh bagi para wanita seperti Jenny yang berpandangan bahwa di luar tugas-tugas yang telah menjadi kodrat mereka tidak ada tempat bagi para wanita dalam masyarakatnya. Wanita bebas, wanita tanpa perlindungan pria, disingkirkan dan dikucilkan. Jadi identitas seksual dan ketergantungan ekonomi ada bersama dalam suatu hubungan yang kompleks yang menentukan setiap aspek kehidupan sosial.

Analisis feminis Marxis berkaitan dengan pengidentifikasian determinan-determinan pengalaman yang bersifat struktural, seperti koeksistensi ketergantungan ekonomi wanita dan identitas seksual wanita. Nancy Hartsock melukiskan kekerasan yang dilakukan terhadap pengalaman wanita akan dirinya melalui pengaturan misoginistik atas kehidupan wanita dalam suatu sistem patriarki kapitalis:

Organisasi keibuan (motherhood) sebagai suatu institusi dimana seorang wanita sendirian bersama dengan anak-anaknya, pengucilan terhadap wanita dari satu dengan yang lain dalam pekerjaan rumah tangga, patologi wanita akan hilangnya diri dalam pelayanan bagi orang lain– seluruhnya menandai peralihan kehidupan ke kematian, distorsi atas apa yang mungkin bisa menjadi aktivitas yang kreatif dan komunal menjadi alat opresif, dan hancurnya kemungkinan komunitas yang ada dalam definisi diri relasional wanita (Hartsock, 1983, hal. 84).

Bagian ini menguraikan sifat-sifat pokok dalam cerita Gilman. Narator menentang isolasi bersama dengan anak-anaknya, dia merasa bayinya sebagai ancaman bagi otonomi pribadinya (anaknya membuatnya ‘lelah’) dan cerita tersebut menunjukkan bahwa penyebab awal penyakitnya adalah depresi pasca-kelahiran. Tetapi, ini hanya berarti bahwa Jenny dibiarkan merawat sendiri anaknya dan begitu pula seorang wanita yang lain diisolasi bersama dengan anak tersebut. Sementara suaminya pergi ke kota dan berpartisipasi dalam dunia publik, para wanita diisolasi dalam rumah dan mereka tetap dibiarkan terpisah oleh hubungan-hubungan berbeda dengan John, kepala rumah tangga. Jenny adalah sekutu diamnya yang juga memiliki nilai-nilai dan pandangan yang sama seperti dirinya dan melaksanakan pendapat-pendapatnya; isterinya berseberangan dengan dirinya karena dia berusaha untuk melibatkannya dalam dialog mengenai nilai-nilai dan pendapat-pendapat tersebut. Terutama, adalah ‘patologi wanita yang kehilangan jati dirinya karena harus melayani orang lain’ yang didramatisir oleh ‘The Yellow Wallpaper’. Dari dua tokoh wanita utama, Jenny menunjukkan tidak memiliki rasa diri (sense of self); dia hanya melayani kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan John. Tetapi, narator berjuang untuk mengendalikan rasa individualitas dirinya yang akut dan tunduk pada keinginan suaminya. Dalam skema nilai masyarakat ini yang kontradiktif, yang dianggap patologis di sini adalah kegagalan untuk mematikan identitas wanita.

Perjuangan ini untuk melawan sense of self-nya ketika narator mencoba untuk menyesuaikan diri, namun gagal, menyediakan prinsip struktur dasar dari narasi tersebut. Dalam `The Yellow Wallpaper’, struktur narasi direpresentasikan sebagai suatu proses, suatu proses yang ditematisasikan sebagai proses interpretasi. Narator bergerak antara tuntutan-tuntutan identitas dirinya dan tuntutan-tuntutan yang diletakkan atas gendernya oleh masyarakat dan ketika dia melakukan itu persepsinya tentang kertas dinding, dan makna yang dia temukan di situ, berubah. Interpretasinya tentang detil-detil dalam pola kertas dinding itu menuntun ke suatu subyektivitas persepsi yang lengkap, dimana kertas dinding dan wanita yang mengamatinya menyatu. Narator menemukan bahwa dia bisa membebaskan dirinya yang suka memberontak dari jeruji-jeruji yang membentuk pola pada kertas tersebut, tetapi pembebasan diri semacam ini justru menjadi penjara diri dalam kegilaan ketika dia mengasingkan diri dari semua yang berada di luar dirinya. Narator kehilangan daya persepsinya, dia kehilangan pendengaran di dunia, sehingga walaupun detil-detil masih tersaji secara realistis dalam narasi, makna dari detil-detil tersebut menjadi kabur. Narasi tersebut mempertanyakan desiferabilitas dari dunia fisik eksetrnal ketika kategori-kategori dasar persepsi menemui jalan buntu: riil versus fantasi, hidup versus mati, aktual versus imajinatif, sahabat versus musuh.

Narator menemukan dua lapisan realitas: suatu pola superfisial dari hal-hal sehari-hari dan suatu represi dunia atau fisik yang ada di bawah permukaan tenang ini. Rasa keterbataasn diri yang dijumpainya menemukan sebuah penyeimbang dalam kontras-kontras antara ruang tertutup dan pandangan taman terbuka. Pertama, dia melihat keduanya secara realistis, tetapi lambat laut pandangannya menjadi lebih personal dan subyektif ketika tokoh-tokoh di taman menjadi identik dengan tokoh dalam kertas dinding itu. Terakhir, narator menyatu dengan tokoh ini dan, walaupun identifikasi ini memungkinkannya untuk melepaskan rasa amarah dan frustrasi yang dialaminya, namun kegilaan yang berkembang kemudian hanyalah bentuk lain dari keterkungkungan. Diri tersembunyi ini yang bisa diungkapkannya hanya dengan mengidentifikasinya dengan tokoh dalam kertas dinding itu dianggap gila dalam masyarakatnya. Dia tidak bisa mengartikulasikan rasa dirinya kepada suaminya, meski telah dicobanya, karena dia tidak memiliki bahasa yang tepat untuk menandingi istilah-istilah patriarkal dimana dia berpikir. Dia berjuang bukan hanya melawan orang-orang dan masyarakat di sekelilingnya tetapi juga melawan pendidikannya sendiri, indoktrinasinya dalam nilai-nilai patriarki kapitalis. Akibatnya, satu-satunya saluran bagi pemberontakkannya adalah menanggalkan bangunan ilusi-ilusi, pola-pola yang keliru dan superfisial, yang membuat rasa individualitasnya tetap tertindas.

Sejak awal kertas dinding telah dipandang sebagai amarah dan kekerasan – dengan ‘kedua mata’ yang mencoba ‘membaca’ dirinya. Dia menyadari bahwa wanita yang sedang mengintai itu berada di dalam dirinya tetapi tertutup dan tersembunyi oleh pola-pola eksternal; jadi wanita tersebut tampaknya ‘tercekik’. Ketika penglihatan realistisnya mencair, dia melihat suatu refleksi dirinya yang lebih langsung dalam kertas dinding itu. Emosi-emosinya terpantul ke sekelilingnya, dimana perasaan-perasaan tersebut lebih mudah ditangani. Walaupun dia mungkin berusaha menyingkirkan rasa bersalah yang dirasakannya, tidak ada obat yang tersedia di dunia narasi bagi gangguan emosional yang sedang dideritanya. Distorsi persepsi, usahanya untuk menghilangkan beban-beban dunia luar, adalah jawaban terhadap ketidakpastian, isolasi dan kungkungan hidupnya. Secara fisik dan psikis dia dihancurkan oleh kemustahilan untuk menemukan bagi dirinya suatu identitas personal yang pasti dan bermakna, yang melekat dalam suatu jaringan hubungan keluarga yang mendukung dan menguatkan.

Kertas tempat dia menuliskan jurnalnya digantikan oleh kertas dinding ketika pengamatan obyektifnya digantikan oleh imajinasi-imajinasi subyektif. Substitusi ini menunjukkan bahwa rasa dirinya sedang menyusut, menjadi tidak pasti dan terbagi. Tulisan menjadi semakin melelahkan bagi dirinya dan barangkali juga menjadi ancaman bagi apa yang masih tersisa dari identitas dirinya. Kemudian, dia berhenti  menuliskan beberapa detil dari pengalamannya. Pembaca, seperti John dan Jenny, tertutup dari dunia pribadinya. Mereka tidak memiliki bagian dalam dunia tersebut untuk alasan-alasan yang sama bahwa mereka bertanggung jawab terhadap kemustahilan kedudukannya: mereka adalah representasi dari sistem patriarki yang telah menghancurkan dirinya. Di mata suaminya dia-lah, dan bukan masyarakat, yang bertanggung jawab terhadap kehancurannya. Dia telah gagal memberikan respons-respons konvensional terhadap pengalaman, bentuk-bentuk respons yang bisa dijelaskan menurut gagasan-gagasan konvensional, dan kegagalan ini menyebabkan kegilaan. Namun dari sudut pandang narator – perspektif yang didukung oleh cerita itu sendiri—kegilaan tentu lahir dari penolakan terhadap aturan-aturan sosial yang ditentukan oleh pria. Usaha-usahanya untuk menolak mekanisme-mekanisme budaya yang mereduksi pribadi wanita menjadi stereotipe-stereotipe dengan menindas rasa individualitasnya menimbulkan penolakan total dirinya terhadap dunia sosial dan lebih menyukai satu-satunya alternatif yang tersedia baginya – dunia pribadi yang penuh kegilaan.

 

Rasa harga diri yang mulai muncul dalam diri narator, rasa identitas dirinya sebagai pribadi yang berbeda, terancam bertentangan dengan prinsip dasar patriarki kapitalis: koeksistensi ketergantungan ekonomi wanita dan identitas seksual wanita. Kedudukan wanita lebih rendah, sehingga dari segi ekonomi mereka sangat tergantung pada pria; karena wanita secara ekonomi tergantung pada pria, mereka harus inferior. Citra seorang wanita independen yang memandang dirinya setara dengan suaminya sangat subversif dan akibatnya tidak diperbolehkan dalam masyarakat patriarkal. Ketika narator ‘The Yellow Wallpaper’ mengetahui risiko sangat besar yang dihadapinya, di bawah sistem patriarki seorang wanita independen disejajarkan dengan wanita gila.

Dalam Women and Economics (1898) Gilman mengemukakan bahwa dengan menghapus ‘pekerjaan wanita’, dengan menyediakan semua pekerjaan bagi kedua jenis kelamin, wanita bisa meningkatkan statusnya dan menjadi lebih produktif sebagai anggota masyarakat. Pekerjaan rumah tangga—memasak, mencuci, membesarkan anak—harus diprofesionalisasikan dan disosialisasikan. Para profesional terlatih harus melaksanakan pekerjaan yang dilakukan secara tradisional, tidak dibayar, oleh wanita di rumah dan karena itu wanita harus beralih ke dunia publik untuk melakukan pekerjaan sesuai pilihannya. Hal yang menentukan status sosial rendah wanita adalah ketergantungan ekonomi wanita dalam perkawinan, pekerjaan yang tidak dibayar dan begitu diremehkan yang mereka lakukan di rumah. Dalam banyak cerita pendek Gilman, dia menggambarkan konsekuensi-konsekuensi bagi tiap wanita yang mampu memenuhi sendiri kebutuhan ekonominya dan karena itu mentransformasikan dirinya menjadi pribadi-pribadi yang otonom dan bermartabat. Tetapi Gilman bukan seorang feminis Marxis. Dia mengusulkan perubahan-perubahan strategis pada struktur ekonomi patriarki tetapi dia tidak mendukung restrukturisasi kapitalisme secara menyeluruh. Patriarki harus direformasi agar memudahkan wanita mengakses ekonomi kapitalis, dan dalam fiksinya wanita yang membebaskan dirinya menemukan kebebasan sebagai pengusaha dan kapitalis skala kecil (wanita pebisnis skala kecil, dsb.). Dalam novel utopia Herland, contoh, anak-anak dibesarkan secara bersama oleh para ahli terlatih, yang memperoleh keuntungan finansial dari keahliannya dalam mengasuh anak. Pandangan bahwa ekonomi kapitalis adalah bidang yang netral gender adalah naif— wanita menemukan bahwa pekerjaan yang dibayar di luar rumah tidak membawa kebebasan atau akhir bagi penindasan. Lingkungan-lingkungan yang terpisah menjamin bahwa makna dan nilai pekerjaan tetap tidak berubah bahkan ketika semakin banyak wanita yang masuk pasar tenaga kerja (17% pada 1900, hampir 22% menjelang tahun 1929). Tetapi  wanita memasuki apa yang disebut ‘profesi mengasuh’, pekerjaan kleris dan rumah tangga, dan upah yang diterima tidak sama walaupun pekerjaan yang dilakukan sama. Pekerjaan wanita secara khusus ditargetkan selama Depresi, dengan pria menuntut sedikit pekerjaan yang tersedia dan keputusan undang-undang untuk menguatkan tuntutan ini (contoh, menurut Undang-undang Ekonomi Federal tahun 1933 hanya satu anggota keluarga yang bisa dipekerjakan oleh pemerintah).

Menulis atau komunikasi adalah satu-satunya pekerjaan yang mampu dikerjakan oleh narator dan dia benar-benar mengabaikan peluang untuk melakukannya dan, akibatnya, mengabaikan peluang untuk mengalami dirinya sebagai pribadi yang produktif. Dia telah memproduksi tetapi psikosis depresi pasca-kelahiran menghambatnya untuk memenuhi peranannya sebagai ibu. Justru, dia ingin melakukan pekerjaan pria (menulis) yang sangat bertentangan dengan peranan sosialnya. Pembalikkan ‘tidak lazim’ peranan-peranan seksual oleh para dokter (suami dan saudara laki-laki narator) disebut ‘gangguan syaraf’. John menentukan apa yang harus dikomunikasikan. Menulis dilarang; dia membaca baginya ketimbang mengijinkan narator membaca untuk dirinya sendiri. Narator meninggalkan ‘kertas mati’ tulisan dan justru memusatkan energi-energi interpretatifnya pada kertas dinding. Dia menjadi terobsesi dengan masalah makna, bagaimana menghadirkan yang imajinatif dan yang aktual ke dalam hubungan. Pola-pola yang tidak dikenali dari pengalaman hidup nyatanya dilambangkan oleh pola-pola kertas dinding itu, dan lewat proses interpretasi dia menemukan gambaran situasi dirinya yang tidak menyenangkan. Namun pandangan ini bukan pembebasan: dengan mendekodekan gambar-gambar dirinya pada kertas dinding dia mendekodekan kembali gambar-gambar tersebut dalam pikiran dimana mereka tidak bisa dihindari. Yang imajinatif dan yang aktual menjadi satu ketika dia menjadi wanita di dalam kertas dinding itu. Dia membaca sebagai seorang wanita konvensional, John sebagai pria konvensional; interpretasi keduanya ditentukan oleh gender.Tetapi konvensionalitas keduanya membuat mereka salah membaca situasi mereka dimana pandangan yang tidak konvensional merupakan perspektif yang menyenangkan. Aktivitas menulis dianggap berpotensi subversif namun potensi ini untuk menimbulkan reaksi-reaksi sosial yang nyata digunakan oleh masyarakat untuk menentukan persepsi-persepsi sosial warganya. Lalu, Gilman menggunakan tulisan untuk memperluas wawasan perseptual dan interpretatif dari para pembacanya (lihat eseinya tahun 1913, ‘Why I Wrote ‘The Yellow Wallpaper”).

Gilman menemui kesulitan besar dalam mempublikasikan ‘The Yellow Wallpaper’ dan cerita tersebut hampir dilupakan sepanjang abad ini. Prestasi Gilman sebagai seorang penulis fiksi banyak diakui hanya sebagai konsekuensi dari upaya-upaya saat ini di kalangan para kritikus sastra feminis yang berusaha untuk memulihkan tradisi tulisan wanita dengan menyelamatkan teks-teks tersebut dari kemusnahan. Ketika ‘When ‘The Yellow Wallpaper’ dibaca, ternyata itu adalah cerita horor: contoh cerita pendek tersebut dimasukkan dalam koleksi tahun 1971 yang berjudul Ladies of Horror:  Two Centuries fo Supernatural Stories by the Gentle Sex (Doubleday, 1971). Hubungan antara kegilaan dan gender dari para korban diabaikan, juga tidak ada hal supernatural dalam cerita tersebut. Cerita itu termasuk dalam genre novel Gothic, yang dipopulerkan oleh Edgar Allan Poe, tetapi Gilman menyadur ceritanya sesuai dengan ekspresi sensibilitas feminin yang bertentangan dengan ortodoksi maskulin. Gaya narasi dan jenis alam psikologis yang digunakan Gilman sebegitu cerdas membawanya ke dalam konflik dengan pandangan-pandangan ortodoks atau realisme yang direkomendasikan oleh kritikus-kritikus berpengaruh seperti William Dean Howells. Karena itu, diharuskan untuk mempertimbangkan dalam cara-cara yang bagaimana gaya tulisan Gilman bertentangan dengan gaya yang modern dan bagaimana hal ini berkaitan dengan pertanyaan tentang gender.

Howells dalam Criticism and Fiction (1891) dan Novel-Writing and Novel-Reading (1899) melukiskan ciri-ciri dari fiksi yang ’bagus’:

Dalam novel-novel, kami selalu memulai dengan sesuatu yang kami ketahui tentang hidup, yakni, dengan hidup itu sendiri; lalu kami melanjutkan dan meniru apa yang telah kami ketahui tentang hidup. Jika kami sangat ahli dan sangat sabar kami bisa menyembunyikan hubungannya. Tetapi hubungan tersebut selalu ada di sana, dan di satu sisinya terdapat tanah nyata dan rumput nyata, dan di sisi lainnya terdapat gambar-gambar tanah dan rumput yang dilukis (Howells, dalam Baym dkk., 1994, vol.2 hal. 241).

Skill ini meliputi penciptaan sudut pandang yang obyektif, tokoh-tokoh yang meyakinkan yang berbicara dalam bahasa sehari-hari yang aktual, yang bergerak di dalam suatu lingkungan historis dan geografis yang spesifik, dimana nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan bisa dikenali, dan menghindari efek-efek melodramatik atau sentimentil. Gaya realisme yang didukung oleh Howells, melalui lembar-lembar majalahnya yang sangat berpengaruh, menekankan yang ‘biasa’. Novelis, seperti didiskusikan oleh Howells, selalu pria, walaupun Howells menyebut karya novel Jane Austen dan George Eliot termasuk di antara beberapa prestasi terbesar dalam bentuk novel. Tetapi Howells buta dengan bias gender dalam preskripsinya untuk tulisan yang bagus. Realitas obyektif yang selalu dipilih oleh Howells sebagai subyek fiksi adalah dunia seperti yang dirasakan oleh pria. Dalam Criticism and Fiction dia menulis bahwa keberhasilan artis terletak pada relasinya dengan alam manusia, yang kita semua ketahui, yakni kebebasan pribadinya, tugas pentingnya, untuk menginterpretasi. ‘Alam manusia’ yang menurut asumsi Howells kita semua telah memahaminya, kemudian diidentifikasi sebagai ‘kumpulan manusia biasa’. Howells sedang berbicara dari sudut pandang pria yang menurut pendapatnya adalah ‘alamiah’ and ‘universal’. Dia tidak menyadari bahwa definisi-definisinya menghambat wanita untuk menulis apa yang disebutnya sebagai fiksi yang bagus. Akibatnya, Howells tidak bisa melihat nilai tersebut dalam bentuk realisme seperti ‘The Yellow Wallpaper’ yang mewakili dunia sebagaimana tampaknya di mata wanita.

Para penulis seperti Gilman menunjukkan bahwa realitas bukanlah sesuatu yang hanya bisa kita asumsikan dipahami secara universal dan secara universal sama; justru, realitas adalah sesuatu yang diciptakan oleh masyarakat lewat usaha-usaha ideologi. Realitas berbasis kelas dan berbeda untuk orang kaya dan orang miskin, pria dan wanita. Pengalaman realitas seseorang tergantung pada di mana tempat seseorang diletakkan dalam masyarakat. Realitas terletak tidak melulu dalam dunia obyektif seperti dalam persepsi individu. Dalam ‘The Yellow Wallpaper’ Gilman melukiskan pengalaman wanita akan realitas secara kualitatif berbeda dengan pria’, tetapi mengaitkan penyebab dari perbedaan ini dengan pembedaan gender yang artifisial dan peranan-peranan seks yang ditentukan secara kultural. Pengalaman ini dan persepsi-persepsi tentang dunia berbeda dengan realitas pria dominan yang didefinisikan sebagai persepsi ‘biasa’ dan ‘obyektif’. Gilman menggambarkan konflik ini dengan menggunakan gaya Gothic, yang disesuaikan dengan tujuan-tujuan feminisnya.

Bentuk Gothic cocok untuk merepresentasikan pandangan yang tidak disadari dan subyektif tentang dunia, tetapi bilamana dunia itu adalah dunia mimpi buruk. Bentuk tersebut menekankan pemisahan dari apa yang diterima sebagai dunia obyektif sehari-hari, yang dianggap oleh Howells sebagai satu-satunya subyek yang tepat untuk fiksi. Konflik antara nilai-nilai masyarakat dan kemampuan individu untuk memainkan peranan sosial bisa dilihat melalui perbedaan antara realitas yang subyektif dan obyektif. Keberadaan dari dua realitas melemahkan ide bahwa sebuah dunia ada. Karena itu, dengan menanyakan pembaca pertanyaan mengenai keaslian dunia, fiksi yang ditulis dalam gaya Gothic bisa mengungkapkan secara efektif protes seorang penulis terhadap pembatasan masyarakat.

Dalam ‘The Yellow Wallpaper’ konflik antara masyarakat dan individu atau realitas obyektif dan realitas subyektif yang diwakili oleh sebuah pikiran (mind) terjebak dalam situasi yang menimbulkan kegilaan. Penyembuhan yang harus dijalani oleh narator dirancang untuk membuat dirinya diam dan tergantung (sesuai dengan peranan sosialnya) melalui teknik deprivasi sensorik. Tetapi deprivasi semacam itu selalu menimbulkan kegilaan. Jadi, dengan segala radikalnya, cerita tersebut meminta kita untuk mempertimbangkan apakah penyesuaian diri dengan peranan-peranan gender adalah suatu bentuk kegilaan dan apakah masyarakat patriarkal kita memang didasarkan pada kegilaan yang terkendali. Gilman menaruh perhatian pada kegilaan, ketidaklogisan, dari ketidakadilan sosial. Dalam hal ini dia menyebutkan absurditas dalam menangani penindasan dengan strategi-strategi deprivasi yang dirancang untuk mengatasi simptom-simptom kelelahan syaraf. ‘Pengobatan’ yang dimaksudkan sekurang-kuranya adalah suatu penanganan medis dan lebih dari itu sebagai alat untuk mengontrol cara wanita mengaitkan dirinya, satu sama lain dan dunia. Menjadi jelas bahwa itu akan menjadi kenyataan ketika narator mulai kembali berbicara dan berpikir menurut cara-cara yang dianggap tepat dan ‘gila’ oleh suami dokternya bahwa dia akan terbebas dari penjara fisiknya. Jadi persepsi-persepsi dan cara dia mengungkapkannya dianggap simptom nyata penyakitnya dan pengobatan yang dianjurkan dimaksudkan untuk menyembuhkan simptom-simptom ini.

Gilman mengatakan bahwa peranan wanita pada dalam budaya Amerika abad sembilan belas berkaitan dengan konsep-konsep ideologis dominan di dunia. Perspektif wanita adalah suatu pandangan imajinatif yang harus dikendalikan dan dibiarkan tetap di bawah pandangan dunia yang rasional, logis, praktis dan obyektif yang mendukung kepentingan-kepentingan pria Amerika abad sembilan belas. Ketika cerita tersebut menyelidiki ketegangan-ketegangan antara dunia subyektif dan dunia obyektif dia tidak menunjukkan bahwa yang satu lebih nyata daripada yang lainnya tetapi bagaiman seperangkat hubungan keluarga dan komunitas yang mendukung diperlukan bagi persepsi yang tepat atau pembentukkan realitas. Gilman memaparkan betapa mudahnya bagi hubungan individu dengan dunia menjadi rusak. Ketika peranan-peranan sosial yang ditetapkan ditentang atau diancam, interpretasi seseorang mengenai lingkungan-lingkungan fisik bisa terdistorsi. Hubungan antara individu dan dunia sangat tergantung pada hubungan dengan orang lain. Ketika seorang wanita tidak bisa memainkan peranan sosialnya sebagai isteri dan ibu maka seluruh jaringan hubungan sosialnya akan kehilangan arah dan persepsinya tentang realitas menjadi tidak tepat. Kesehatan psikologis dan fisik seseorang dan kesehatan ekonomi masyarakatnya tergantung pada keadilan universal dalam semua hubungan sosial.

Akhirnya, narator ‘The Yellow Wallpaper’ bukan seorang reporter yang handal bagi pengalamannya sendiri; dia tidak menyadari seluruh tindakannya ataupun dia juga tidak bisa menguasai pikiran-pikirannya ketika logikanya berubah menjadi kegilaan. ‘Ciuman’ di dinding adalah hasil dari cakarannya; tanda di papan ranjang adalah hasil gigitannya. Jarak antara gambar dan maknanya melukiskan keterasingan dirinya dari kediriannya sebagai istri ketika dia semakin menjadi wanita kertas. Pengucilannya dari realitas material, yang memiliki sebab material dan ideologis, menjadi pengasingan dari dirinya sendiri.

Feminisme Marxis memungkinkan kita untuk mengidentifikasi dalam ‘The Yellow Wallpaper’ penciptaan kelas seksual yang berbeda yang didisposisikan dan tetap dibiarkan dalam suatu posisi inferioritas lewat penggunaan strategi-strategi penindasan di bidang ideologi dan ekonomi. Inferioritas wanita tidak sekadar diasumsikan: masyarakat menghendaki subordinasi wanita pada pria dan ini menciptakan sebuah kelas sosial yang miskin pikiran dan fisik—yang disimbolkan dalam novel ini oleh sekelompok ‘wanita yang merayap’ yang tidak mau menonjolkan diri dalam setiap cara yang mungkin karena hanya dengan mengingkari keberadaan sosialnya mereka berusaha untuk tetap bertahan hidup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s