Teknik Dasar Akting Teater

Standar

Teknik 1 : Aktor dengan Suara dan Tubuhnya

Seorang aktor atau aktris dalam pekerjaan sehari-harinya pasti akan berhadapan dengan berbagai masalah yang menyangkut suara dan tubuhnya. Berbagai perasaan yang berkecamuk dibathin tokoh yang diperankan, harus mampu diejawantahkan melalui suara dan tubuhnya. Kondisi-kondisi badaniah yang dihadapi sang tokoh harus mampu dikemukakan dengan memanfaatkan suara dan tubuhnya. Melalui suara dan tubuhnya itulah seorang aktor-aktris berkomunikasi. Dengan suara dan seluruh bagian dari tubuhnya, ia harus mampu bercerita sehingga dapat meyakinkan orang lain.

Tuntutan dari segi suara dan fisik tidak kalah banyaknya dengan tuntutan yang ada dari segi kejiwaannya. Bagi seorang aktor/aktris teater, kondisi suara dan fisik yang prima menjadi syarat ang mutlak. Ia tidak perlu bersuara merdu bagai biduan dan berbadan bak seorang binaragawan, atau ratu kecantikan. Tidak perlu pula baginya untuk bersuara alto atau sopran, atau berpotongan tubuh bak seorang pesenam. nyaSuara boleh biasa-biasa saja dan tubuhnya pun boleh berbentuk bagaimana saja, sesuai kebutuhan tokoh yang ia perankan. Ia bisa bersuara cempreng, bertubuh pendek gemuk, kurus tinggi, besar tegap atau sedang-sedang saja dan berbagai bentuk suara dan tubuh yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi dari dirinya dibutuhkan kesiapan yang mutlak, artinya suara dan tubuhnya harus siap pakai dalam kondisi seperti apapun juga. Kelenturan suara dan tubuh, keluwesan gerak, kesanggupan untuk bersikap tak melawan atau berpasif dengan seluruh tubuhnya, dan berbagai sikap serta perbuatan lainnya harus mampu dilahirkannya. Dan ini semua harus dilakukan secara logis, jelas dan tegas. Untuk segalanya inilah, maka seorang aktor/aktris dituntut untuk senantiasa melatih suara dan tubuhnya.

Salah satu usaha untuk itu adalah latihan olah suara dan latihan olah tubuh. Dapatkah suara dan tubuh diolah? Kalau seorang aktor/aktris ingin melihat suara dan tubuhnya sebagaimana seorang seniman keramik melihat tanah liat. Maka dapatlah ia mengolah suara dan tubuhnya. Seperti sang seniman keramik menyiapkan adonan tanah liat yang diaduk-aduk dan diremas-remasnya sebelum membentuk benda yang ingin dibuatnya. Harus seperti itulah sikap aktor/aktris terhadap suaranya dan tubuhnya.

Teknik 2 :  Olah Suara

Suara pemain teater harus dapat menempuh jarak yang lebih jauh dibanding dengan suara pemain film dan sinetron, karena suara pemain teater tidak hanya dituntut terdengar oleh lawan main, akan tetapi juga harus terdengar oleh seluruh penonton. Pertunjukan yang secara visual baik, kalau suara pemainnya tidak cukup terdengar, akan membuat penonton tidak dapat menangkap jalan ceritanya. Pertunjukan yang secara visual buruk, tapi kalau ucapan pemainnya cukup terdengar oleh penonton,
asih dapat membuat penonton bisa menikmati jalan cerita dari pertunjukan tersebut. Ini menunjukkan bahwa, suara mempunyai peranan yang cukup penting. Agar tujuannya tercapai, pemain teater harus melatih:

  1. Kejelasan ucapan. Agar setiap sukukata yang ia ucapkannya cukup terdengar.
  2. Tekanan ucapan. Agar isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat yang diucapkannya bisa ditonjolkan.
  3. Kerasnya ucapan. Agar kalimat yang diucapkannya cukup terdengar oleh seluruh penonton.

1) Melatih Kejelasan Ucapan

  1. Latihan berbisik: Dua pemain berhadapan, membaca naskah dalam jarak 2-3 meter, dengan cara berbisik.
  2. Latihan mengucapkan kata atau kalimat dengan variasi temponya, cepat dan lambat: “zengzeng teeeengtes sreseptep brebeeeet … maka para pesulap mengeluarkan kertas berwarna-warni dari mulut dowernya yang kebanyakan mengunyah popcorn, kentucky, pizza, humberger di rumah-rumah makan eropa-amerika dan membuat jamur dari air ludahnya pada kertas panjang yang menjulur bagai lidah sungai yang menuju jalan layang bebas hambatan kemudian melilit bangunan-bangunan mewah disekitar pondok indah cinere pantai indah kapuk bumi serpong damai  pluit pulomas sunter hijau kelapa gading permai dan tugu monas yang menjulang tinggi ke angkasa…”

2) Melatih Tekanan Ucapan
Tekanan ucapan ada tiga macam; 1). Tekanan Dinamik. 2). Tempo. 3). Tekanan Nada.
a. Tekanan Dinamik
Tekanan Dinamik ialah keras dan pelannya suatu ucapan. Gunanya untuk menggambar isi pikiran dan isi perasaan dari suatu kalimat. Contohnya; “Hari Sabtu ibu ke pasar” (artinya, bukan hari minggu atau hari lainnya). “Hari Sabtu ibu ke pasar” (artinya, bukan saya atau kakak saya). “Hari Sabtu ibu ke pasar” (artinya bukan ke toko buku atau ke toko makanan).
b. Tekanan Tempo
Tekanan Tempo maksudnya adalah cepat dan lambatnya ucapan. Gunanya sama dengan tekanan dinamik. Untuk menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan dari suatu kalimat. Contohnya:

  • “Ha-ri Sab-tu ibu ke pasar”
  • “Hari Sabtu i-bu ke pasar”
  • “Hari Sabtu ibu ke pa-sar”

Tekanan nada merupakan lagu dari sebuah ucapan, contohnya; “Wah, dia pandai sekali!” atau “Gila, ternyata dia dapat menjawab pertanyaan yang serumit itu!”
3) Tekanan Nada
Teknik ucapan pemain teater ternyata lebih rumit dibanding dengan tehnik ucapan bagi pemain film dan sinetron. Ucapan pemain teater tidak hanya dituntut jelas dan menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan, tetapi juga dituntut harus keras, karena ucapan pemain di atas panggung menempuh jarak yang lebih jauh. Untuk itu kerasnya ucapan harus dilatih dengan berbagai macam cara. Diantaranya;

  1. Mengucapkan kata atau kalimat tertentu dalam jarak 10 meter atau 20 meter. Dalam latihan ini, yang harus selalu dipertanyakan ialah: a). Apakah sudah jelas? b). Apakah sudah menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan? c). dan pertanyaan yang terpenting, apakah sudah wajar?
  2. Latihan mengguman. Gumaman harus stabil dan konstan. Kemudian harus menggunakan imajinasi dengan mengirim gumaman ke cakrawala. Bayangkanlah “gumaman” yang dikeluarkan lenyap di cakrawala.

Ketiga teknik ucapan di atas (kejelasan ucapan, tekanan ucapan dan kerasnya ucapan), pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang utuh ketika seseorang berbicara atau berdialog. Ketiga teknik itu saling mengisi dan melengkapi. Sebelum melatih ketiga tekhnik ucapan di atas, sebaiknya dilakukan pemanasan terlebih dahulu. Misalnya, dengan mengendurkan urat-urat leher, urat-urat pembentuk suara, dan membuat rileks seluruh anggota tubuh.

Teknik 3 : Olah Tubuh

Bentuk tubuh kita, dan cara-cara kita berdiri, duduk dan berjalan memperlihatkan kepribadian kita. Motivasi-motivasi kita untuk melakukan gerak lahir yang berasal dari sumber-sumber fisikal (badaniah), emosional (perasaan), dan mental (pikiran), dan setiap tindakan (aksi) kita berasal dari satu, dua atau tiga macam desakan hati (impuls). Banyak sekali interaksi atau pengaruh timbal-balik dan perubahan urutan yang tak habis-habisnya.
Saat tubuh kita kedinginan dan bergetar, kita merasakan dingin dan ketidak nyamanan, maka kita berkata: “dingin”. Pengalaman badaniah memberi petunjuk bagi perasaan dan pikiran kita. SaaKita diliputi kegembiraan, maka kita melompat, menari dan menyanyi. Aliran perasaan yang meluap meledak ke dalam bentuk aktifitas badaniah. Seorang aktor tidak akan bergerak demi gerak itu sendiri dan tidak pula membuat gerak indah demi keindahan. Bila dari dirinya diminta agar menari, maka ia akan melakukannya sebagai seorang tokoh tertentu, pada waktu, tempat dan situasi tertentu. Latihan olah tubuh bagi seorang aktor adalah suatu proses pemerdekaan diri.

Tulang punggung dapat menyampaikan kepada para penonton berbagai kondisi yang sedang kita alami, apakah lagi tegang atau tenang, panas atau dingin, letih atau segar, tua atau muda, dan ia juga membantu keberlangsungan perubahan sikap tubuh dan bunyi suara kita. Secara anatomis bagian-bagian tulang punggung terdiri dari:
a. 7 ruas tulang tengkuk
b. 12 ruas tulang belakang
c. 5 ruas tulang pinggang
d. 5 ruas tulang kelangkang bersatu dan 4 ruas tulang ekor.

Teknik 4 : Latihan kepala dan leher

  1. Jatuhkanlah kepala ke arah depan dengan seluruh bobotnya dan ayunkan dari sisi ke sisi.
  2. Jatuhkan kepala ke arah kanan, ayunkan ke arah kiri melalui bagian depan, lalu ayunkan ke arah kanan melalui punggung.
  3. Lalukan latihan yang sama untuk “bahu”.
  4. Untuk tangan dan kaki, dapat menggunakan variasi rentangan.

Teknik 5 : Latihan tubuh bagian atas

Berdiri dengan kedua kaki dengan sedikit direnggangkan berjarak antara 60 sentimeter. Tekukkan lutut sedikit saja. Benamkan seluruh tubuh bagian atas ke arah depan di antara kedua kaki. Biarkan tubuh bagian atas bergantung seperti ini dan berjuntai- juntai untuk beberapa saat. Tegakkan kembali seluruh tubuh melalui gerakan ruas demi ruas, sehingga kepalalah yang paling akhir mencapai ketinggiannya dengan seluruh tulang punggung melurus. Dengan cara yang sama, coba membongkokkan tubuh ke arah kiri, ke arah kanan, dan ke arah belakang.

Teknik 6 : Latihan pinggul, lutut dan kaki

  1. Berdiri tegak dengan kaki rapat. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kembali tegak.
  2. Berdiri tegak dengan satu kaki, kaki yang lain dijulurkan ke depan. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kemudian kembali tegak. Ganti dengan kaki yang lain.
  3. Putar lutut ke kiri dan ke kanan. Buatlah berbagai variasi dengan konsentrasi pada lutut.

Teknik 7 : Seluruh batang tubuh

  1. Berdiri dan angkatlah tangan ke atas setinggi-tingginya, regangkan diri bagaikan sedang menguap keras merasuki seluruh tubuh. Ketika kita mengendurkan regangan tubuh, berdesahlah ambil lemaskan diri sehingga secara lemah lunglai mendarat di lantai. Jangan dilakukan secara mendadak, tapi biarkanlah bobot tubuh kita sedikit demi sedikit luruh ke bawah/ke lantai.
  2. Pantulkan diri dengan goyangkan lengan-lengan, tangan-tangan, lutut, kaki dan telapak kaki ketika berada di udara. Keluarkan teriakan singkat ketika kita memantul.

Teknik 8 : Berjalan

  1. Mengkakukan tulang punggung dan rasakanlah betapa langkah yang satu terpisah dari langkah lainnya.
  2. Mendorong leher ke arah depan.
  3. Mengangkat dagu.
  4. Menunduk/menjatuhkan kepala ke depan.
  5. Mengangkat bahu ke atas tinggi-tinggi.
  6. Menarik bahu ke arah belakang.
  7. Menjatuhkan atau membungkukkan bahu ke arah depan.
  8. Sambil menggerak-gerakkan tangan pada siku-sikunya.
  9. Memantul-mantulkan diri dari kaki ke kaki.
  10. Dengan membengkokkan telapak kaki ke atas dan bertumpu pada tumit-tumit kaki.
  11. Mencondongkan seluruh tubuh ke arah belakang dan perhatikan betapa ini meninggalkan berat bobot tubuh di belakang saat melangkah maju.

Teknik 9 : Berlari

Berdiri dan tarik napas terlebih dahulu, kemudian hembuskan napas ke depan sambil berlari, mengeluarkan suara “haaaa” sepanjang kemampuan napas yang dikeluarkan. Kemudian berbalik lagi ke tempat ketika berhenti, lalu tarik napas dan ulangi gerak lari yang sama. Gerakan dan suara akan membentuk ungkapan atau ucapan yang selaras. Tariklah napas dalam-dalam, ketika mengeluarkan napas larilah mundur sambil membungkukkan tubuh bagian atas ke arah depan.

Teknik 10 : Melompat

  1. Berlari menuju ke titik suatu lompatan. Rasakan betapa sifat memantulnya berat tubuh mengangkat kita.
  2. Ayunkan kedua kaki sebebas-bebasnya dan melompatlah lebih tinggi lagi.

Seluruh rangkaian latihan olah tubuh tersebut harus dilakukan dengan menggunakan imajinasi (pikir dan rasa), dan dapat ditambahkan berbagai variasi dengan membunyikan musik instrumentalia.

#Sumber : S.C. Bangun dkk. Buku Seni Budaya SMK/MA/SMA/MAK Kelas IX Semester I Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2014 

Iklan

Perbedaan Pendidik dan Pengajar

Standar

Bismillahhirrahmanirrahim.

syukur alhamdulillah bisa corat-coret lagi di Jombang Pustaka setelah sekian lama sempat vakum. (gak punya laptop, ini aja pake laptop pinjaman 🙂 ).

nggeh pun, sakmonten mawon basa-basi e. dulur, niki wonten artikel menarik, monggo diwoco!

 

PENDIDIK VS PENGAJAR

Muncul berbagai pendapat tentang apa itu pengajar dan apa itu pendidik. Menurut asumsi saya peribadi, perbedaan antara pendidik dan pengajar, terletak pada pendidikan moral yang di berikan, pengajar hanya bertugas untuk mentransfer ilmunya kepada orang lain, namun tidak memiliki kewajiban untuk membentuk moral dari orang yang dia ajar. Sedangkan Pendidik tidak hanya mampu mentransfer ilmu, namun juga mampu membentuk moral dari orang yang dia ajar.

Cukupkah Hanya dengan Menjadi Seorang Pengajar untuk turut membangun bangsa ?

Seorang pendidik memiliki kemampuan untuk mentransfer ilmu layaknya pengajar, namun seorang pengajar tidak mampu untuk melakukan hal yang sama layaknya pendidik, yakni turut bertanggung jawab atas moral dari orang yang di didik, dan itu merupakan sebuah amanah yangcukup besar, karena apa yang akan di lakukan oleh orang yang telah terdidik, merupakah hasil binaan dari si pendidik.
Menjadi seorang pengajar adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia, karena dia turut mencerdaskan bangsa berkat kerjanya, Pengajar mampu menciptakan orang-orang yang cerdas , bukankah akan menjadi makmur negara ini jika semua pemimpin ataupun warga negaranya cerdas, berkat seorang pengajar ? Jawabannya BELUM TENTU !!!

mereka memang cerdas dalam berfikir, namun belum tentu mereka juga cerdas dalam bertindak serta memiliki moral yang baik. buktinya? kita lihat saja para pemimpin dan wakil rakyat, tidak mungkin mereka bisa duduk di kursi kebanggaan mereka jika mereka tidak cerdas, namun masih banyak wakil rakyat tersebut yang melakukan tindakan layaknya orang yang tak berpendidikan, ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa wakil rakyat pernah menonton video porno dalam sidang, dan bahkan pernah ada wakil rakyat yang video mesumnya tersebar ke masyarakat, namun yang paling mencolok adalah hobi beberapa wakil rakyat untuk mencuri uang negara, yang tentunya uang itu milik rakyat. Jika kita telusuri lagi dalam setiap kasus korupsi di butuhkan sebuah Taktik dan kecerdasan Tinggi oleh si pelaku untuk mencuri uang Negara , hingga tak seorangpun mampu mengetahuinya, namun apakah itu termasuk prilaku orang berpendidikan ? tentu TIDAK , itu karena mereka tidak memiliki dasar moral serta pendidikan yang baik. Mereka (Para Koruptor)Hanya memikirkan kesenangan mereka, tanpa memikirkan nasib jutaan rakyat yang mereka rugikan, dan dampak besar lain dari korupsi yang mereka lakukan. Karena itulah Indonesia tidak membutuhkan para pemimpin yang Terpelajar namun tak bermoral, yang Indonesia butuhkan adalah orang- orang yang terdidik, yang secara tak langsung mereka akan bertanggung jawab terhadap amanah yang mereka pegang.

 

 

Mencontek, Budaya awal bagi terlahirnya seorang calon koruptor, lalu di manakah si pendidik ?

Mencontek masih menjadi Budaya pelajar. Semua orang tau bahwa mencontek merupakan tindakan tidak jujur, dan tidak dapat di pungkiri bahwa prilaku mencontek ini pernah di lakukan hampir oleh semua orang, dengan satu alasan yang sama, yakni “TERDESAK”, saya sendiripun pernah melakukan hal yang sama, yakni mencontek saat ujian, memang nilai tinggi yang didapat, namun tidak ada kepuasan tersendiri dari nilai yang tercetak. akhirnya kini tertanam dalam diri saya bahwa tidak ada kepuasan tersendiri selain memperoleh nilai hasil kerja pribadi.

Budaya Mencontek ini Muncul karena adanya keinginan untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya tanpa adanya kesadaran tentang makna sebuah kejujuran. Itu karena Nilai cenderung digunakan sebagai Penunjuk Kecerdasan, Nilai muncul di raport dan dapat di lihat oleh semua orang, Jika Nilai Jelek orang Tua Marah, Jika Nilai Baik Orang Tua Bangga. Itulah Pemahaman yang selalu tertanam dalam diri kita.

Penanaman paham bahwa nilai itu segalanya, tidak di imbangi dengan penanaman moral bahwa sebuah kejujuran itu jauh lebih berharga, mengabikatkan mencotek menjadi sebuah budaya yang secara turun temurun terus di lakukan oleh pelajar yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Budaya Inilah yang secara tak langsung melahirkan koruptor-koruptor baru, karena sejak kecil mereka tidak di ajarkan pentingnya sebuah kejujuran. Hingga prilaku buruk tersebut mereka bawa hingga dewasa. Lalu dimana peran seorang Pendidik ?

Guru yang digambarkan sebagai seorang pendidik di lingkungan sekolah, masih banyak yang belum mengetahui tentang makna menjadi pendidik dalam arti sesungguhnya.Buktinya : Masih banyak kasus yang menunjukkan bahwa Guru membantu muridnya dalam mengerjakan ujian nasional. Baik melalui pesan singkat atau metode curang lainnya.Jika guru yang ada di sekitar mereka tidak mampu menjadi pendidik bagi mereka, lalu siapa ? Karena itulah di butuhkan pemahaman lebih dari seorang guru, bahwa tidak cukup jika dirinya hanya menjadi seorang pengajar, namun harusnya jadi seorang Pendidik, karena mereka memegang amanah penting untuk mendidik serta membentuk moral para calon pemimpin bangsa.

 

Menjadi Pendidik = Turut Membangun Bangsa

Usaha untuk membangun bangsa, tidak hanya di lakukan dengan memberantas para koruptor yang telah mencuri uang rakyat, namun harusnya juga memberantas kebiasaan tidak jujur yang berkembang di kalangan pelajar, karena para pelajar-pelajar muda itulah yang nantinya akan menggantikan para pemimpin dan para wakil yang rakyat yang kini menjabat. Jika kita membiarkan kebiasaan tidak jujur berkembang di sekitar mereka, maka secara tak langsung banyak prilaku negatif yang akan tertanam dalam diri mereka, sehingga melahirkan calon koruptor-koruptor baru, jika nantinya mereka menjadi pemimpin atau para wakil rakyat.

Di sinilah fungsi pendidik di butuhkan, karena dia tidak hanya berjasa dalam mencerdaskan bangsa namun juga berperan penting dalam menjaga keutuhan serta pembangunan bangsa. Dengan turut melahirkan para pelajar muda, yang nantinya mam
Cukupkah Hanya dengan Menjadi Seorang Pengajar untuk turut membangun bangsa ?

Seorang pendidik memiliki kemampuan untuk mentransfer ilmu layaknya pengajar, namun seorang pengajar tidak mampu untuk melakukan hal yang sama layaknya pendidik, yakni turut bertanggung jawab atas moral dari orang yang di didik, dan itu merupakan sebuah amanah yangcukup besar, karena apa yang akan di lakukan oleh orang yang telah terdidik, merupakah hasil binaan dari si pendidik. Menjadi seorang pengajar adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia, karena dia turut mencerdaskan bangsa berkat kerjanya, Pengajar mampu menciptakan orang-orang yang cerdas , bukankah akan menjadi makmur negara ini jika semua pemimpin ataupun warga negaranya cerdas, berkat seorang pengajar ?Jawabannya BELUM TENTU !!!

mereka memang cerdas dalam berfikir, namun belum tentu mereka juga cerdas dalam bertindak serta memiliki moral yang baik.

buktinya ? kita lihat saja para pemimpin dan wakil rakyat, tidak mungkin mereka bisa duduk di kursi kebanggaan mereka jika mereka tidak cerdas, namun masih banyak wakil rakyat tersebut yang melakukan tindakan layaknya orang yang tak berpendidikan, ada beberapa berita yang menyebutkan bahwa wakil rakyat pernah menonton video porno dalam sidang, dan bahkan pernah ada wakil rakyat yang video mesumnya tersebar ke masyarakat, namun yang paling mencolok adalah hobi beberapa wakil rakyat untuk mencuri uang negara, yang tentunya uang itu milik rakyat. Jika kita telusuri lagi dalam setiap kasus korupsi di butuhkan sebuah Taktik dan kecerdasan Tinggi oleh si pelaku untuk mencuri uang Negara , hingga tak seorangpun mampu mengetahuinya, namun apakah itu termasuk prilaku orang berpendidikan ? tentu TIDAK , itu karena mereka tidak memiliki dasar moral serta pendidikan yang baik. Mereka (Para Koruptor)Hanya memikirkan kesenangan mereka, tanpa memikirkan nasib jutaan rakyat yang mereka rugikan, dan dampak besar lain dari korupsi yang mereka lakukan. Karena itulah Indonesia tidak membutuhkan para pemimpin yang Terpelajar namun tak bermoral, yang Indonesia butuhkan adalah orang- orang yang terdidik, yang secara tak langsung mereka akan bertanggung jawab terhadap amanah yang mereka pegang.

 

Mencontek, Budaya awal bagi terlahirnya seorang calon koruptor, lalu di manakah si pendidik ?

Mencontek masih menjadi Budaya pelajar. Semua orang tau bahwa mencontek merupakan tindakan tidak jujur, dan tidak dapat di pungkiri bahwa prilaku mencontek ini pernah di lakukan hampir oleh semua orang, dengan satu alasan yang sama, yakni “TERDESAK”, saya sendiripun pernah melakukan hal yang sama, yakni mencontek saat ujian, memang nilai tinggi yang didapat, namun tidak ada kepuasan tersendiri dari nilai yang tercetak. akhirnya kini tertanam dalam diri saya bahwa tidak ada kepuasan tersendiri selain memperoleh nilai hasil kerja pribadi.

Budaya Mencontek ini Muncul karena adanya keinginan untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya tanpa adanya kesadaran tentang makna sebuah kejujuran. Itu karena Nilai cenderung digunakan sebagai Penunjuk Kecerdasan, Nilai muncul di raport dan dapat di lihat oleh semua orang, Jika Nilai Jelek orang Tua Marah, Jika Nilai Baik Orang Tua Bangga. Itulah Pemahaman yang selalu tertanam dalam diri kita.

Penanaman paham bahwa nilai itu segalanya, tidak di imbangi dengan penanaman moral bahwa sebuah kejujuran itu jauh lebih berharga, mengabikatkan mencotek menjadi sebuah budaya yang secara turun temurun terus di lakukan oleh pelajar yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Budaya Inilah yang secara tak langsung melahirkan koruptor-koruptor baru, karena sejak kecil mereka tidak di ajarkan pentingnya sebuah kejujuran. Hingga prilaku buruk tersebut mereka bawa hingga dewasa.

Lalu dimana peran seorang Pendidik ?Guru yang digambarkan sebagai seorang pendidik di lingkungan sekolah, masih banyak yang belum mengetahui tentang makna menjadi pendidik dalam arti sesungguhnya. Buktinya : Masih banyak kasus yang menunjukkan bahwa Guru membantu muridnya dalam mengerjakan ujian nasional. Baik melalui pesan singkat atau metode curang lainnya. Jika guru yang ada di sekitar mereka tidak mampu menjadi pendidik bagi mereka,lalu siapa ? Karena itulah di butuhkan pemahaman lebih dari seorang guru, bahwa tidak cukup jika dirinya hanya menjadi seorang pengajar, namun harusnya jadi seorang Pendidik, karena mereka memegang amanah penting untuk mendidik serta membentuk moral para calon pemimpin bangsa.

 

Menjadi Pendidik = Turut Membangun Bangsa

Usaha untuk membangun bangsa, tidak hanya di lakukan dengan memberantas para koruptor yang telah mencuri uang rakyat, namun harusnya juga memberantas kebiasaan tidak jujur yang berkembang di kalangan pelajar, karena para pelajar-pelajar muda itulah yang nantinya akan menggantikan para pemimpin dan para wakil yang rakyat yang kini menjabat. Jika kita membiarkan kebiasaan tidak jujur berkembang di sekitar mereka, maka secara tak langsung banyak prilaku negatif yang akan tertanam dalam diri mereka, sehingga melahirkan calon koruptor-koruptor baru, jika nantinya mereka menjadi pemimpin atau para wakil rakyat. Percuma jika kita memberantas koruptor yang merusak bangsa saat ini, namun koruptor-koruptor baru terus bertambah, melalui metode pendidikan yang salah.

Di sinilah fungsi pendidik di butuhkan, karena dia tidak hanya berjasa dalam mencerdaskan bangsa namun juga berperan penting dalam menjaga keutuhan serta pembangunan bangsa. Dengan turut melahirkan para pelajar muda, yang nantinya mampu menjadi pemimpin yang jujur serta bermoral baik.pu menjadi pemimpin yang jujur serta bermoral baik.